Mamuju Ethnic

Informasi & Literasi Budaya Mamuju

Sabtu, 25 Mei 2024

Mandar Dalam Konteks Kesukuan

Benarkah Mamuju itu Suku Mandar ?
Itulah pertanyaan yang sering dilontarkan oleh hampir semua kalangan, baik yang belum paham betul dengan sejarah maupun yang sudah mengerti akan sejarah di Mandar. Secara garis besarnya suku mandar dinyatakan adalah kelompok masyarakat yang memiliki ciri dan kesamaan dalam hal budaya maupun bahasa dalam satu wilayah yang mendiami wilayah Sulawesi bagian barat. Dimasa sekarang oleh sebagian besar masyarakat terutama yang tidak mengetahui dan kurang memahami sejarah sehingga tidak mampu mengurai benang kusut sebuah peristiwa sejarah dimasa lampau, saling mengklaim bahwa wilayah kerajaan daerahnya dulunya adalah sebuah kerajaan yang paling besar maupun yang paling tua dan ini hanyalah sebuah perdebatan tiada ujungnya, jika tidak memahami sejarah yang pernah terjadi.


Pertama kita harus mulai dari pemahaman  apa yang dimaksud dengan suku itu sendiri. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), suku berarti golongan orang-orang (keluarga) yang seturunan. Suku juga berarti golongan bangsa sebagai bagian dari bangsa yang besar. Jadi, suku adalah suatu kelompok masyarakat yang terdiri dari orang-orang se keturunan dan umumnya memiliki sifat-sifat karakteristik yang sama termasuk kebudayaan dan kepercayaannya.


Kapan kata Mandar mulai ada

Beberapa peta peta awal yang dibuat oleh orang-orang Eropa pada awal abad 16 seperti Peta Dekoratif Hindia Timur dari Mercator-Hondius (1569), toponim untuk Mandar belum ada justru toponim Mamuju sudah tertera dengan nama Momoia/ mamoya, justru pada peta peta setelahnya baru tertera, yaitu disekitar pertengahan abad ke 17 M. Pada peta Giacomo Cantelli da Vignola dan Giacomo de Rossi pada tahun 1683 dan beberapa peta peta pelaut Belanda seperti peta De Wit untuk Asia Tenggara, diukir oleh Joannes Lhulier pada tahun 1662, dan Giacomo Giovanni Rossi (1627-1691) kartografer berkebangsaan Italia.


Orang orang Belanda lah yang berkontribusi penuh pada publikasi dan administrasi pemberian nama Mandar pada peta pada awal abad ke 17 M. Baru pada tahun 1685 seorang pendeta jesuit berkebangsaan Prancis Nicholas Garvaise yang kemudian menulis tentang sejarah Makassar “Description Historique du Royaume de Macaçar” (Deskripsi Sejarah Kerajaan Makassar) Buku yang terdiri dari tiga bagian itu khusus mengulas tentang sejarah Kerajaan Makassar. Dimana dalam tulisan tersebut disebutkan tentang Mandar dan Mamoiya (Mamuju) sebagai 2 kota penting dalam wilayah Mandar dan rencana penaklukan Mandar dan Bone oleh kerajaan Gowa. Buku ini dianggap sebagai buku tertua terbitan eropa yang menceritakan tentang alam kehidupan kerajaan Makassar. Saat buku itu diterbitkan (1688), Kerajaan kembar Gowa-Tallo baru saja ditaklukkan oleh persekutuan VOC – Bone yang dipimpin CJ Speelman – Arung Palakka, dalam perang Makassar 1667-1669.


Kata "Mandar" mulai ada sejak peristiwa ”Allamungang Batu di Luyo” pada tahun 1610, (kurang lebih 10 tahun sebelum VOC terbentuk), ini adalah sebuah peristiwa penting dalam perkembangan sejarah peradaban manusia di wilayah Sulawesi Barat. Allamungang Batu di Luyo adalah momentum sakral dalam sejarah dengan bertemunya kerajaan kerajaan yang ada di pesisir pantai  maupun kerajaan yang ada diwilayah hulu sungai untuk saling memperkuat perjanjian sebelumnya yaitu perjanjian Tamejarra I dan perjanjian Tamejarra II.


Allamungang Batu di Luyo ditandai dengan adanya monumen kesapakatan berupa dua batu berbentuk persegi memanjang yang sebagian ditanam ketanah sebagai simbol ikatan dalam perjanjian dengan ucapan Ikrar yang berbunyi: "Ulu Salu memmata di sawa, Baqba Binanga memmata di peqarappeanna mangiwang" .."Sisaraqpai mata malotong anna mata mapute annaq sisaraq Pitu Ulunna Salu anna Pitu Baqbana Binanga,  Sapala Tappere disolai" artinya: (Pitu Ulunna Salu mengawasi musuh yang datang dari arah pegunungan, dan Pitu Baqbana Binanga mngawasi musuh yang datang dari arah laut. Nanti berpisah mata hitam dengan mata putih baru berpisah Pitu Ulunna Salu dengan Pitu Baqbana Binanga. Satu tikar bersama).


Kerajaan-kerajaan dari Pitu Baqbana Binanga di pimpin oleh Tomepayung, Raja Balanipa. Kerajaan-kerajaan dari Pitu Ulunna Salu dipimpin oleh Londodehata  (neneq tomappu) Raja Rantebulahan. Allamungang Batu di Luyo disebut juga dengan istilah "Sipamandar" yaitu saling menguatkan. Ikrar Sipamandar di Luyo diartikan sebagai satu kesatuan budaya dan wilayah yang saat ini disebut Mandar, dari sisi historis dan genealogi dapat berarti bahwa sebelumnya memang telah menyatu dalam satu eksistensi dan subtansi yang menyatu dalam Ikrar Sipamandar yang menerangkan bahwa nenek moyang mereka berasal dari satu leluhur yang sama yakni Pongkapadang dan Torijeqne'.


       
Dalam Assitaliang (perjanjian) sebelumnya yaitu perjanjian Tammejarra I dan II, tapi Allamungang Batu di Luyo mengisyaratkan bahwa Mandar sebagai konsep wilayah dan konsep budaya lahir dari kesepakatan dan kesadaran serta tuntutan rasa persatuan dan kesatuan 14 kerajaan kerajaan di pesisir yaitu; Kerajaan Balanipa, maupun dihulu sungai dengan koordinasi dilaksanakan oleh kerajaan Balanipa yang kemudian menjadi pusat konfederasi Mandar, sehingga dalam perjalanan sejarah kata Mandar yang dulunya hanya sebatas ikatan dalam perjanjian lambat laun menjadi sebuah identitas sebagai satu kesatuan suku dalam klasifikasi geopolitik dan budaya yang kini disebut Mandar. (Arman Husain)

Sumber: diolah dari berbagai sumber 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar