Mamuju Ethnic

Informasi & Literasi Budaya Mamuju

Selasa, 20 Juni 2023

Sejarah awal berdirinya kerajaan Mamuju

Kerajaan Mamuju disebutkan dan mulai dikenal sejak adanya perjanjian di Tamajarra yang dipelopori oleh Todilaling yang dilaksanakan di Tamejarra pada akhir abad ke XVI. Dimana Maradika Tomejammeng menjadi perwakilan dari Kerajaan Mamuju kala itu. Dalam hal ini Tomejammenglah yang menata struktur kerajaan dan lembaga Hadatnya. Ini membuktikan bahwa kerajaan Mamuju sudah berdiri sejak sebelum Tomejammeng menjadi raja di Mamuju. 

Berbicara asal mula berdirinya Kerajaan di Mamuju tidak ada yang bisa memastikan kapan oleh karena disebabkan minimnya sumber sumber pendukung berupa data data yang bisa menjadi acuan penulisan sejarah. Jika merunut kapan berdirinya kerajaan di Mamuju ini tentunya kita harus memulai dari sumber sumber yang menuturkan siapa yang membawa garis keturunan yang disebutkan dalam sumber primer seperti lontrak atau manuskrip yang paling sahih sebagai sumber rujukan penulisan sejarah. Ada beberapa lontrak yang membahas sejarah awal manusia yang membawa garis keturunan itu atau biasa disebut Tomanurung sebagai permulaan peradaban suatu kerajaan yang ada di Mamuju ini kita mulai dari seorang yang bernama Pongkapadang, disini saya tidak akan berpendapat kalau Pongkapadang adalah manusia yang pertama kali datang didaratan Sulawesi karna kita tahu bahwa sejak 3000 tahun yang lalu manusia sudah mendiami kawasan Sulawesi dan sudah dibuktikan dengan temuan temuan arkeologi yang menguatkan bahwa sudah ada manusia primitif yang mendiami kepulauan Sulawesi sejak dahulu. 


Todipanurung dilangiq, Tomanurung atau Seseorang yang diturunkan dari langit adalah manusia yang dianggap titisan dewata dan tidak diketahui asal usulnya menjadi sebuah permulaan dari manusia yang menurunkan garis keturunannya sampai terbentuknya suatu masyarakat disuatu wilayah yang disebut Tomakaka, segala aturan aturan perikehidupan masyarakat yang menjadi standar hukum yang berlaku, inilah yang disebut adat istiadat atau kebiasaan yang berlaku dan disepakati secara mutlak bersama sama, sebagai seorang pemimpin Tomakaka inilah yang berhak memutuskan sebuah perkara hukum dan menjadi penentu segala kebijakan yang memang harus ditaati oleh masyarakat adat tersebut. Tomanurung inilah yang biasanya menjadi cikal bakal adanya tomakaka disebuah wilayah adat masing-masing. 

Bermula dimana seorang Tomanurung bernama Tokombong Dibura kawin dengan Tobisse Ditallang, lahirlah Tobanua Pong. Tobanua Pong melahirkan Tapaqdorang, Tapaqdorang melahirkan Pongkapadang kawin dengan Sanrabone (Torijeqne versi Mamasa) lahirlah seorang anak perempuan yang kemudian diperisterikan Topole di Makka (Makki) sebuah wilayah di Kalumpang, Maka dari perkawinan ini, lahirlah Tometeqeng Bassi (orang yang bertongkat besi) dan Tometeqeng Bassi kawin dengan sepupunya, lahirlah Daeng Lumalle. Daeng Lumalle kawin sepupu lagi, lahirlah sebelas orang anak, sebagai berikut :

1. Daeng Tumana
2. Lamber Susu
3. Daeng Mangana
4. Sahalima
5. Palao mesa
6. Taandiri
7. Daeng Palulung
8. Todipikung
9. Tolambana
10. Topaniq 
11. BuluTopaliq. (Lontrak Balanipa).

Dari keseblas orang anak keturunan Daeng Lumalle ini, Taandirilah yang membawa keturunan pendiri kerajaan di Mamuju, dalam perjalanannya kesebelas orang keturunan ini pulalah yang membawa keturunan keberbagai pelosok wilayah di tanah Mandar.

Kemudian Daeng Lumalle' menikah lagi dengan Dehata Dikurungan Bassi dan melahirkan anak yang diberi nama Tolippa ditallang. Kemudian Tolippa ditallang menikah dengan sepupunya dan melahirkan dua orang anak sepasang, masing-masing bernama Kalababa Sakkala Bassi dan Topelipaq Karoroq. Dan Topelipaq Karoroq inilah yang kemudian menikah dengan Pue Todipali Maradia Mamuju.

Disebutkan seorang Tomanurung tiba tiba hadir tidak diketahui asalnya dan duduk diatas batu di Tumpiq (?), singkatnya Tomanurung ini menikahi seorang wanita yang juga berasal dari wilayah itu, sebuah wilayah yang disebutkan sebagai dataran yang penuh batu batu sehingga wanita itu digelari Tosuqbe dibatu atau yang datang dari tempat berbatu namun tidak dijelaskan di daerah mana. Tomanurung ini digelar Pue Tosuqbe Karaolamba, Karaolamba diartikan seseorang yang datang dari perjalanan yang jauh atau orang yang sedang mengembara, disini kita pahami bahwa Tomanurung hanyalah gelar untuk menyebutkan orang yang tidak dikenali atau orang asing dan tiba tiba hadir ditempat itu walaupun memang banyak yang menganggap bahwa itu manusia yang turun atau diturunkan dari langit sebagai jelmaan dewa atau titisan dewa. Konsep pemahaman ini didasari dari kepercayaan manusia kala itu yang masih menganut pemahaman animisme dan dinamisme yang kuat. 


Kita kembali ke Tomanurung tadi, setelah menikahi wanita tersebut akhirnya kedua pasangan ini memilih untuk pindah ketempat lain yang disebut Manumba(?) dan ditempat inilah keduanya memiliki anak keturunan tujuh orang yang semuanya adalah perempuan yang masing masing bernama; Tasallena, Tabittoeng, I paliliq, I Coaq, Takasang, Taurraurra dan Lowe Katimbangmassang. Dan pada waktunya akhirnya ketujuh anak anaknya berpencar untuk memulai kehidupan barunya dan menjadi nenek moyang ditempat baru yang mereka diami seperti Tasallena memilih tinggal di Baras dan diyakini inilah yang menurunkan garis keturunan raja raja di Baras dan kemudian adalah Tabittoeng tinggal di Lariang, I Paliliq tinggal menetap di Kurri kurri (Simboro), I Coaq tinggal di Sinajoi (Sinyonyoi?), Takasang tinggal di Bungi(?), Taurra-urra tinggal di Tabulahan dan Lowe Katimbang Amissang atau Katimbangmassang menetap di Mamuju (mamunyu). 

Lowe Katimbang atau Katimbangmassang inilah yang menikah dengan Taandiri salah satu anak Daeng Lumalle yang tinggal dihulu sungai Saddang. Dalam versi Lontrak Balanipa disebut bahwa Taandari adalah keturunan dari Tokombong diwura seperti yang dijelaskan diatas. Dari perkawinan Lowe Katimbang Ammissang dan Taandiri menurunkan lima orang Anak, masing-masing; yang sulung tinggal di simboroq, anak berikutnya menjadi Pue Tobone-bone dan berikutnya lagi menjadi Pue Tokasiba, Anak yang berikutnya Totappaliq di Maloku, ada kemungkinan bahwa Totappliq di Maloku ini diberi nama demikian karena baru pulang dari perjalanan perantauan dari sebuah daerah yang disebut Moloku, apakah Moloku ini Maluku atau Maloku di sebuah wilayah di Pamboborang di Majene saat ini. Anak berikutnya lagi (tidak disebutkan namanya) kawin dengan anak ratu Tosangala Maka lahirlah I Tanroaji, inilah yang menjadi Pue atau Maradika di Mamuju pertama kalinya.

Baras adalah salah satu wilayah di Kabupaten Mamuju Utara saat ini dan masuk dalam wilayah administratif kabupaten Mamuju Utara (sekarang kabupaten Pasangkayu). Mamuju dibagian utara merupakan pusat kerajaan Baras sebagai kerajaan kuno sebelum kerajaan Mamuju berdiri dan diperkiran sudah ada sejak abad ke VII SM. Anak dari Totappaliq di Moloku ini menikah dengan sepupunya yang juga anak raja Baras yang merupakan kerabat dari orang tuanya dari keturunan Tasallena, dari pernikahan inilah melahirkan I Ballaq yang kemudian diperistri oleh I Tanroaji sepupunya sendiri. Dari pernikahan I Tanroaji dan I Balla ini melahirkan keturunan bernama Todipudendeanna. Inilah yang menjadi kakek langsung dari Tomejammeng. Todipudendeanna kemudian menikah dengan sepupunya dan melahirkan seorang anak yang kemudian menikahi anak dari Tomessalangga Barayya raja Gowa ke-2 yang digelari Tomanurung ri gowa. 

Diceritakan bahwa Tomanurung ri gowa inilah yang menolak pengangkatan raja Gowa Karaeng Matandre Manguntungi Tumapparissi Kollonna yang dilantik oleh Bate Salapang (Hulubalang) kerajaan untuk menjadi raja Gowa ke -9 (1510-1546). Ia menganggap Karaeng Tumapparissi Kollonna adalah anak I Rerasi atau berasal dari keturunan budak dari tanah Mandar. Akibat dari ketidaksetujuannya akhirnya Tomanurung ri Gowa pergi meninggalkan tanah leluhurnya dan sampailah di Kerajaan Baras di Mamuju, Ia kemudian menikah dengan putri raja Baras yang juga adalah masih merupakan keluarga atau sepupunya sendiri dan dari pernikahan inilah lahir tiga orang anak yang kelak menjadi pewaris di tiga kerajaan yaitu Sendana, Mamuju dan Benawa (Kaili). Masing-masing bernama; I Badantassa Batara Bana, yang menjadi raja Pujananti (Benawa), I Palagunna Tonipali menjadi Maradika di Mamuju, Tomissawe di Mangiwang menjadi Maradia Sendana. Tomissawe di Mangiwang sendiri menjadi Maradia di Sendana sekitar tahun 1540. Pue Tonipali adalah ayah dari Tomejammeng, Tomejammeng adalah orang yang sama dengan Lasalaga namun dalam gelar penyebutan yang lain. Dikatakan bahwa Lasalaga adalah gelar yang diberikan kepadanya ketika hadir di kerajaan Gowa bersama ayahnya Pue Tonipali.

Sebelum diangkat menjadi raja Mamuju Tomejammeng menikah dengan sepupunya dan kemudian menikah lagi dengan seorang wanita dari bangsawan kerajaan Badung dan anaknya inilah yang dikenal sebagai Lasalaga yang dalam tutur cerita masyarakat Mamuju, orang inilah yang lahir kembar dengan sebilah keris yang disebut Manurung. Tomejammeng inilah yang membawa keturunan raja raja di Mamuju setelahnya dan dia pula yang memperluas wilayah kerajaan dengan penaklukan Kurri-kurri di Simboro dan menjadikan seluruh masyarakat Kurri-kurri tunduk dan dari golongan bangsawan diberi tempat menjadi pembesar kerajaan di Mamuju, sebahagian menjadi pemangku adat dalam wilayah hadat masing masing seperti wilayah hadat Pue Tokasiwa, Pue Tobone bone dan kemudian hari dijadikan perangkat hadat dalam kerajaan Mamuju. 

Ada perbedaan pendapat jika kita mengambil sumber rujukan dari beberapa Lontrak, sehingga tidak banyak yang bisa mengambil sebuah kesimpulan untuk menulis sejarah awal kerajaan Mamuju karena terdapat perbedaan tulisan dalam beberapa Lontrak tersebut. Disini saya akan mengambil kesimpulan bahwa orang yang bernama Tomejammeng adalah gelar bagi orang yang sama dengan Lasalaga, Gelar atau panggilan khas To;mejammeng disematkan karena menggunakan kacamata (Jarammeng;jammeng) berarti orang yang memakai kacamata, sedangkan La Salaga diambil dari bahasa Bugis yang berarti pusaka, yang bermakna yang dikeramatkan atau dianggap pusaka. 

Tomejammeng sebelum menikahi putri bangsawan kerajaan Badung, terlebih dahulu sudah memiliki istri dari anak Tomakaka Sinyonyoi di Padang
Udung Bassi. Daeng Lumalle (Sakkala Bamba) menikah dengan Dehata anak Tomakaka Sinyonyoi di Udung Bassi dan kemudian melahirkan putri Tolippa di Tallang inilah yang disebut Tokayyang dipadang, kemudian Tolippa di Tallang menikah dengan Daeng Maibu (ng) dan melahirkan; Kalababa Sakkala Bassi atau kolambassi (Tomakaka Sonyonyoi) dan Topelipaq Karoro. Topelipaq Karoro inilah yang kemudian dinikahi Tomejammeng. 

Ada cerita yang dituturkan dalam masyarakat padang mengenai pernikahan Topelipaq Karoro dengan Maradika Mamuju, bahwa suatu hari anak Tolippa di Tallang ini dibawa oleh orang tuanya ke pantai untuk menangkap ikan dan terlihatlah anak gadis ini oleh Maradika dan seketika itu juga Maradika hendak meminang anak gadis ini maka diutuslah salah satu penghulu raja yaitu pabicara untuk menyampaikan maksud Maradika kepada orang tua dan kerabat gadis ini, tidak lama berselang dipanggillah gadis ini untuk menemui Maradika Mamuju tapi apa yang terjadi gadis ini menolak karena merasa tidak mempunyai pakaian yang bagus untuk menghadap Maradika dan akhirnya alasan penolakan itupun disampaikan oleh pabicara ke Maradika. Maradika kemudian menyuruh pabicara untuk membawakan gadis tersebut kerumah Maradika dan akhirnya gadis tersebut dengan diantar oleh kerabat dan orang tuanya untuk menemui Maradika. Setibanya dirumah Maradika dengan hanya memakai sarung yang terbuat dari kulit pelepah nipah atau karoro, maka Maradika memberinya sebuah sarung untuk dipakai gadis itu, namun maksud pemberian Maradika ini sebagai simbol kalau gadis itu sudah menjadi miliknya karena memakai sarung milik raja tersebut, namun bagi keluarga Tosinyonyoi itu dianggap sebagai penghinaan atau celaan kepada masyarakat Sinyonyoi di Kurungan Bassi dan terjadilah perselisihan antara keduanya. Namun setelah melalui negosiasi yang panjang maka disepakatilah sebuah perdamaian dengan menikahkan Maradika dengan Topelipa Karoro sebagai syarat Maradika menawarkan akan menyerahkan emas dan beberapa budak sebagai passorongan (akad) pernikahan tetapi ditolak oleh orang Sinyonyoi dan mengajukan permintaan lain yaitu agar Maradika memberikan izin kepada masyarakat Sinyonyoi untuk dapat mengambil dan menangkap ikan di sepanjang pantai dan perairan dari Tomuki sampai pantai Ahuni dan diberi hak menangkap ikan di sungai Rimuku dan Bonepaas dan jika ada hasil tangkapannya akan dibagikan ke Maradika. Tradisi menangkap ikan oleh masyarakat Sinyonyoi ini disebutkan hanya dengan menggunakan akar dan buah buahan beracun sebagai umpan ikan disungai sungai besar dan dalam.

Dari pernikahan inilah Tomejammeng dan Topelipaq Karoro lahir seorang anak tunggal namun tidak disebutkan namanya, setelah utusan Maradika berangkat untuk mengambil Lasalaga di kerajaan Badung selama berbulan bulan perjalanan ke Pulau Bali disaat itupula Maradika telah wafat sebelum utusan itu tiba di Mamuju kembali, karena perjalanan itu memakan waktu yang cukup lama. Karena keadaan kerajaan sementara waktu tidak ada anak keturunan raja yang dianggap paling berhak selain Lasalaga, maka keadaan semakin kacau dan memburuk, maka diangkatlah anak raja yang ada di Mamuju dari pernikahan dengan Topelipaq Karoro anak Tokayyang dipadang.

Setibanya utusan kerajaan Mamuju yang tidak membuahkan hasil karena Lasalaga tidak diperkenankan dibawa pulang ke Mamuju oleh ibunya, maka terjadilah perselisihan dikerajaan Mamuju karena yang harus menjadi raja adalah Lasalaga menurut pertimbangan adat dikerajaan Mamuju sehingga kembalilah diutus seorang cerdik pandai atau Sakkaq Manarang untuk membawa Lasalaga kembali dengan cara apapun, sehingga atas kepandaian Sakkaq Manarang membuat ide dengan membujuk hati Lasalaga kecil agar tergiur dengan permainan yang terbuat dari emas dan akhirnya berhasil membawa kabur anak raja ke Mamuju.

Dan Lasalaga diangkat sebagai raja setelah diambil secara diam diam dari keraton kerajaan Badung sehingga cerita ini melegenda sampai hari ini di masyarakat Mamuju. Setelah menjadi raja di Mamuju, Lasalaga kemudian kembali lagi ketanah kelahirannya di Badung Bali. Lasalaga sangat sakti karena keris manurung memberinya kekuatan untuk menaklukkan beberapa kerajaan kecil di tanah dewata Bali begitupun setelah kembali ke Mamuju Lasalaga berniat mengalahkan kerajaan kerajaan kecil seperti Kurri-kurri dan Managallang di Padang yang sebelumnya memang memusuhi kerajaan Mamuju. 


Setelah mengalahkan Kurri-kurri dan Managallang dibawalah orang orang Kurri-kurri ke kampung Kasiwa dan berbaur menjadi masyarakat dikasiwa dan sebahagian dijadikan pengawal dan budak dikerajaan atau disebut juga joaq, sedangkan Maradia Alu, I Tagalung-galung diangkat jadi Pue Tobone-bone dan orang-orang Managallanglah yang diangkat jadi bangsawan dalam hadat Pue Tokasiwa karena mengikuti budaknya Tokurri-kurri di Kasiwa dan Maradika Managallang diangkat sebagai Paqbicara dikerajaan Mamuju. Setelah itu Lasalaga menikah dengan sepupu sekalinya.

Sebagai kesimpulan bahwa berbicara sejak kapan dimulainya pemerintahan kerajaan di Mamuju kita sudah bisa mengambil sebuah kesimpulan jika dikatakan masa awal adanya sebuah struktur pemerintahan kerajaan tentunya itu sudah ada dimulai masa I Tanroaji tiga generasi dibawah masa dari Pue Tonipali bahkan jauh dibawah di masa raja Gowa ke-2 Tomessalangga Barayya menjadi raja di Gowa dan diketahui masa kekuasaan raja ini antara tahun 1300 atau lebih. Jadi kira kira umur kerajaan Mamuju ini seumur dengan kerajaan di Gowa, namun banyak yang mengira di masa Tomejammenglah kerajaaan Mamuju mulai terbentuk, sebagian pendapat menganggap itu karena Lontrak menjelaskan bahwa Tomejammeng lah yang membesarkan kerajaan tapi bukan mendirikan kerajaan Mamuju, kita tau bahwa kerajaan Mamuju sudah ada sebelum Tomejammeng menjadi raja bahkan jauh sebelumnya. (Arman Husain. 2021)

Sumber; 
- Lontrak Pattodioloang Mandar, 
- Lontrak Balanipa Mandar, Transliterasi oleh A.M. Mandra.1986
- Lontrak Kurungan Bassi, Milik Hasbi. (Transliterasi dari Tim Sekolah Lontara' Sulawesi Barat).
- Lontrak Tabulahan, 
- Buku; Mengenal Mandar Sekilas Lintas I. Perjuangan Rakyat Mandar Sulawesi Selatan Melawan Belanda (1667-1949) oleh Saiful Sinrang.1994. 
- Mengenal Mandar Sekilas Lintas oleh Saiful Sinrang. 1994
- Indische Taal, Land en Volkenkunde, NOTA BEVATTENDE GEGEVENS BETREFENDE HET LANDSCAP MAMOEDJOE. 
- Silsilah Bangsawan Kerajaan kerajaan di Mandar. Oleh; Saiful Sinrang.
- Pidato Hari Jadi Majene, Memuat Sejarah Kerajaan Sendana, Banggae, Pamboang dan Puraloa di Malunda'/ Ulumanda'. Oleh Darmansyah. 2018.
- Selayang Pandang, Sejarah Adat Kabupaten Mamuju Oleh; Drs. H. I. Abd. Rachman Thahir, MPA.
- Sumber wawancara,
Login


Sabtu, 10 Juni 2023

Mengurai Sejarah Lasalaga Dalam Perspektif Komparatif Literatur dan Folklore Mamuju (Bag. 3)


Disini kita melihat bahwa penulis lontrak terkesan menyembunyikan fakta bahwa Tomejammeng dan Putri Badung berhubungan tanpa diketahui oleh keluarga kedua orangtuanya masing-masing. 

Dalam lontrak jelas mengatakan Maradia Mamuju setiap Malam mendatangi perahu Putri Badung ini dan sengaja menutupi jalur perahu dengan batu batu agar perahu orang Bali tidak bisa keluar dari sungai, logisnya kalau memang hubungan mereka dianggap sah tidak seharusnya ada usaha untuk menghalangi perahu orang Bali keluar dari sungai untuk kembali pulang.

Sesampai di Bali Sang putri beberapa waktu kemudian lalu mengandunglah anak dari hubungan dengan Maradia Mamuju. Namun kehamilan sang putri akhirnya di ketahui juga oleh raja saat itu dan membuat Sang raja menjadi murka sehingga Sang putri di usir dari Istana Badung dan akhirnya Sang putri yang hamil tiba waktunya akan melahirkan. 
Namun amarah raja Badung akhirnya mereda setelah mengetahui Putrinya akan melahirkan.

Dan tersebarlah berita dan sampai juga ke kerajaan Mamuju bahwa Sang putri telah melahirkan seorang anak laki-laki kembar dengan sebilah keris, ini pula yang membuat raja Badung merasa sangat sayang kepada anak tersebut. Dan seiring waktu anak itu tumbuh besar dalam lingkungan kerajaan Badung yang saat itu di bawah kekuasaan dinasti raja Kyahi Arya Tegeh Kori raja Pemecutan I. Kemudian Raja Mamuju bersiasat untuk mengambil anak tersebut yang merupakan keturunannya yang kelak akan mewarisi tahta kerajaan Mamuju. maka dikumpulkannya para pembesar kerajaan untuk mencari cara untuk mengambil anak tersebut dari kerajaan Badung.


”..Apa kaiyyangi anaq dininna di Mamuju, matemi amanna. Sauwi nala Tomamuju. Polei sau, iqdai napebei puang Bali.  Malaimi Ieqmai. Polei leqmai, marusaqmi mamuju, apaq anaq dininnamo maraqdia. Iqdamijari ande. Terjemahan: Sudah besarlah anaknya yang ada disini. Meninggallah ayahnya (Tomejammeng). Berangkatlah orang Mamuju kesana. Setibanya disana, anak itu tidak diberikan untuk dibawa pulang oleh Puang Bali. Maka pulanglah orang Mamuju, setibanya di Mamuju, kacaulah keadaan karena anaknya yang disini jadi raja. Sudah tidak ada kedamaian dan makananpun tak bisa dimakan."...Iumiddels was Badoeng geteisterd door hongersnood en deelde een orakel mede, dat zulks te wijten was nan de verbauning van de bewuste vrouw, waarop zij uit hare atzondering weer aan het hof mocht terugkeeren..” Terjemahan: ”..Sementara itu Badoeng dilanda kelaparan dan seorang peramal memberi tahu bahwa ini disebabkan oleh pengasingan wanita tersebut, setelah itu dia diizinkan kembali ke pengadilan dari pengasingannya..”


Menurut kepercayaan orang Bali bahwa di kerajaan Badung pada saat itu dilanda paceklik dan kelaparan di sebabkan murka dewa karena disebabkan di asingkannya Sang putri sehingga raja akhirnya membawa kembali Sang putri ke istana Pamecutan di Badung, dalam buku itu pun diceritakan bahwa setelah kedatangan utusan dari raja Mamuju, niat untuk membawa pulang anak tersebut tidak mendapat persetujuan dari ibunya sendiri dan para utusan itu pulang dengan tangan hampa.


Melihat kegagalan utusan yang pulang tanpa hasil tersebut, Maradika tidak berputus asa setelah beberapa waktu kemudian Maradika kemudian kembali mengadakan musyawarah dengan para pembesar kerajaan untuk mencari cara yang terbaik agar anak tersebut bisa datang ke Mamuju dan, sampai diputuskanlah bahwa untuk membawa anak itu haruslah di iming-imingi dengan sesuatu yang menarik bagi anak tersebut dan bagi raja Badung itu sendiri agar mengizinkan anak itu dibawa ke Mamuju walaupun akan di kembalikan lagi ke Badung kemudian hari.


Setelah disepakati oleh para tetua adat kerajaan Mamuju maka berangkatlah beberapa perahu yang telah dibekali dengan berbagai macam hadiah berupa perhiasan emas dan permainan gasing yang terbuat dari emas yang di pimpin oleh Sakkaq Manarang atau seorang cerdik pandai dengan pandai besi. Karena raja tidak mau keinginannya untuk kali ini gagal lagi tidak tanggung-tanggung emas yang dibawa cukup banyak sehingga disebutkan banyaknya sampai seperti dua gunung emas dan ada pula permainan seperti Juppiq  emas dan Gasing emas untuk memikat anak tersebut.

”...De prauwen hadden twee gouden tollen medegebracht, een djoepi mas met een gasing mas, waarmede het koningskind aan hoord gelokt werd. Het werd eindelijk overgehaald de klewang eveneens mede te brengen, letgeen op een goeden dag gebeurde. Hierna staken de prauwen weder in zee nadat die der Balineezen doorboord waren en dus niet konden vervolgen..” Terjemahan: ”Para prahu(orang Mamuju) membawa serta dua gasing emas, sebuah djoepi mas dengan gasing mas, yang digunakan untuk memikat anak kerajaan.  Akhirnya dibujuk untuk membawa klewang juga, yang terjadi pada suatu hari.  Setelah itu, perahu-perahu itu kembali ke laut setelah perahu-perahu orang Bali ditembus (dilubangi) dan oleh karena itu (pengejaran) tidak dapat dilanjutkan”.


Sesampainya di Badung orang suruhan raja Mamuju langsung menghadap ke istana kerajaan Badung dan mengutarakan maksud kedatangannya yaitu membawa kabar bahwa ayahanda La Salaga telah wafat dan berkehendak membawa pulang anak raja dengan menyerahkan hadiah pemberian berupa emas yang banyak kepada raja Badung, akan tetapi pemberian tersebut tidak dapat merubah pendirian raja Badung dan tetap saja menolak tawaran dari kerajaan Mamuju, akan tetapi Sakkaq Manarang tidak kehabisan akal dan tidak mau gagal untuk kedua kalinya dengan cara mempengaruhi anak tersebut dengan permainan.


Seperti yang tercantum dalam kalimat lontrak; ”...Mendulumi sau to Mamuju ummalai, nawawami sakkaq manarang, pande bassi. Polei sau, daiqmi naperoa, lqdai napebei lyamo loana, nauwa; beimaq nauttengi naong dilopi sambongi, apaq namalaiaq madondong...”

”..Iya tomo tia napogauq sakkaq manarang,  lao mappusarri inggannana lopi nilangga. Apa dappingalloi, lumajami to Mamuju,  napalaiammi anak puannga.”

”..Membueqi daiq Bali di mali-malimang, naulumi lopinna. lqdami mala sau apaq roqboqi. Polei leqmai, iyamo maraqdia.”

Pada akhirnya anak itupun terpikat untuk dibawa ke Mamuju akan tetapi Sang bunda tetap bersikukuh tidak menginginkan anak tersebut di bawa ke Mamuju walaupun telah diberi hadiah yang cukup besar. Setelah berhasil mempengaruhi anak itu bahwa jika mau datang ke Mamuju akan diberi permainan yang lebih banyak lagi. Sakkaq Manarang lantas meminta kepada Sang bunda kalau anak itu di ijinkan untuk tidur bersama-sama dengan mereka di perahu orang Mamuju satu malam terakhir sebelum mereka pulang keesokan harinya kembali ke Mamuju dan juga akan mengajari anak itu bermain gasing dan sebagai pelepas rindu untuk bersama-sama dengan anak itu terakhir kalinya yang juga anak raja dari Mamuju, maka Sang bunda tidak keberatan dengan hal tersebut karena di perahu juga ada pengawal kerajaan yang mengawasinya. Anak itupun bersama-sama dengan utusan dari Mamuju semalam suntuk bermain di dalam perahu sampai anak itu terpengaruh ingin datang ke Mamuju setelah mendengar rayuan Sakkaq Manarang, karena merasa  telah berhasil mempengaruhi anak itu Sakkaq Manarang pun merasa bahwa tidak baik membawa anak itu tanpa membawa pula kembarannya yaitu sebilah keris yang diberi nama Lasalaga.


Setelah menyusun rencana dengan matang, utusan dari Mamuju segera mengatasi pengawal anak itu dan melobangi perahu-perahu yang ada agar tidak bisa disusul nantinya jika sudah pergi, maka disuruhlah anak itu untuk mengambil saudaranya agar dibawa bersama-sama ke Mamuju yang tersimpan di dalam kamar Sang Bunda di istana dengan segera agar tidak ketahuan diambillah dengan cara sembunyi-sembunyi, tanpa sepengetahuan ibunya diambillah keris itu dengan tergesa-gesa karena takut ketahuan akhirnya keris itu tercabut dari sarungnya, dan sarungnya dan tertinggal di istana kerajaan Badung.


Keesokan harinya kapal-kapal utusan dari Mamuju telah berlayar dengan membawa anak itu beserta keris pusaka kembarannya menuju ke perairan Mamuju. Dan para pengawal yang mengetahui kejadian tersebut berencana menyusul tapi apa daya semua kapal-kapal milik kerajaan Badung telah tenggelam kedasar laut, Sang Bunda pun tidak berdaya dengan hal itu dan akhirnya merelakan kepergian anaknya.


Sesaat sebelum menginjakkan kakinya kedaratan Mamuju anak itu memberitahukan kepada utusan raja untuk menunjukkan dimana musuh-musuh kerajaan Mamuju saat itu, di Muara sungai Mamuju itu pula akhirnya La Salaga diberitahukan bahwa kelak akan menjadikan kerajaan Mamuju menjadi besar setelah menaklukkan dua wilayah adat yang ditunjukkan sebagai  musuh oleh utusan tadi yaitu hadat di Padang dan hadat di Rangas yang tak lain adalah Managallang dan Kurri – kurri.

” In de baai van Mamoedjoe gekomen vroeg de knaap, waar vijanden misden van Mamoedjoe, en werd hem Rangas en Padang gewezen. Een slag met de bekende klewang in de lucht in de richting der overmoedige stammen was voldoende om een aantal der hunnen te doen sneuvelen.” Terjemahan:  ”Sesampainya di teluk Mamujoe, bocah itu bertanya di mana musuh hilang dari Mamujoe, dan Rangas serta Padang ditunjukkan kepadanya.  Pukulan dengan klewang terkenal di udara ke arah suku yang terlalu percaya diri sudah cukup untuk membunuh beberapa dari mereka.”


Tidak lama kemudian diangkatlah La Salaga menjadi raja, tetapi karena La Salaga saat itu masih berumur sangat muda sehingga jiwa mudanya masih bergejolak dan suka berbuat onar sehingga masyarakat dan hadat kerajaan meminta agar La Salaga kembali ke Badung untuk menemui ibunya. Sejak saat itu kembalilah La Salaga ke Badung untuk menemui ibunya, akan tetapi di Badung kelakuan La Salaga semakin menjadi-jadi dengan melakukan kekacauan di Badung dengan menyerang tetangga kerajaan Badung yaitu kerajaan Sassa (Sasak).

”..Apa iqdai naulle to Mamuju apaq taqlalo begai panggauanna/ malaimi sau dibanuanna.

Polei sau, iy yaamo napogauq lumamba mamusuqi banua, iamo umbetai Sassa (?).

Malaimi leqmai di Gowa. Nairrangngimi diaja di Gowa, sirumummi to Mamuju apaq iqdai naulle, apaq marussaqmi banua, sipate-patei. lyamo nasiturqi daiq nala. Polei dongai, sialami bojap-pissanna.

Iyamo napogauq diong di Mamuju lumamba mamusuqi banua. lyamo umbetai Kurri-kurri, iyamo mettama joaq timbanua...”


Sehingga suatu saat diundanglah raja Badung oleh kerajaan Gowa sekitar tahun 1575, yang saat itu diperintah oleh I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa  Tunijallo (1565-1590), untuk menghadiri acara pernikahan salah seorang putrinya. Raja Badung membawa serta putri dan cucunya, La salaga. Sehingga nama La Salaga itu diberikan oleh raja atau masyarakat Bugis yang hadir pula saat itu, sesuai dengan adat kebiasaan gelar bangsawan di Bone dan Gowa dengan menggunakan awalan “La, dan “I- sebagai gelar untuk bangsawan untuk tamu kehormatan. Mengingat dimasa inilah kerajaan Bone dan kerajaan Gowa dalam kondisi dibawah perjanjian perdamaian kesepakatan (Ulukanaya ri-caleppa), yang diadakan di sebuah tempat bernama Caleppa. Setelah peristiwa dibunuhnya raja ke-11, I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Data Tunibatte, di kerajaan Bone sesaat setelah menginvasi kerajaan tersebut.


Mendengar kehadiran La Salaga di kerajaan Gowa, berkumpullah para anggota kerajaan Mamuju untuk memanggil kembali La Salaga ke Mamuju, berhubung karena kosongnya tahta kerajaan karena raja Mamuju Tomejammeng telah wafat (1575) saat itu, sehingga kondisi kerajaan tanpa seorang raja telah banyak terjadi konflik di internal istana kerajaan Mamuju bahkan sampai terjadi pertumpahan darah, maka berangkatlah beberapa punggawa kerajaan dan Tobarani ke Kerajaan Gowa.


Pada akhirnya La Salaga bersedia juga kembali ke Mamuju dan dinobatkan menjadi Maradika pada tahun 1580, dan menikah dengan kerabat terdekat dari ayahnya, La Salaga hanya lima tahun menjabat sebagai raja dengan keris Pusaka Manurung penaklukan kerajaan Kurri-kurri dan Managallang akhirnya terwujudkan oleh La Salaga, kesaktian Keris Pusaka Manurung akhirnya membawa kerajaan Mamuju mencapai puncaknya dengan menggabungkan wilayah taklukkannya dan membentuk sebuah kerajaan besar yaitu kerajaan Mamuju yang di pusatkan di Tarambang adalah kerajaan Mamuju sebelumnya yang bernama kerajaan Langgamonar. Sejak saat itu wilayah kerajaan Mamuju di tentukan batas-batasnya setelah dikalahkannya Ringgi dan Bunu-bunu melalui sebuah kesepakatan perjanjian Kalumpang, yaitu mulai dari Pembuni[8], sampai ujung batas Mamuju di Lalombi[9], dan sampai Lebani, yaitu seberang sungai Simboro (Desa Sumare), atau mulai dari tanah Kaili (Sulawesi Tengah), di sebelah timur berbatasan Luwu (Sulawesi Selatan).


Referensi :
[1] Mengenal Mandar Sekilas Lintas. A. Syaiful Sinrang . 2001. Hal : 8
[2] Indische Taal Land en Volkenkunde Deel LIII, NOTA BEVATTENDE EENIGE GEGEVENS BETREFFENDE HET LANDSCHAP MAMOEDJOE_ Legende omtrent de rijkssieraden. Bijlage VII/53. hlm:  150-152.
[3] Dalam Lontar Mandar disebutkan Raja Mamuju yang pertama bergelar Nenek Tomejammeng.(A. M. Mandra,1991).
[4] Dalam terjemahan lontara Mandar, yang ditransliterasi oleh A.M, Mandra tahun 1991, dikatakan bahwa Maradika telah memperistri putri Bali, dan putri sampai mengidam dengan meminta berbagai macam buah-buahan dan kerang laut.
[5]Juppiq sejenis permainan tradisional yang terbuat dari batok kelapa yang bentuknya seperti hati.
[6]Gasing merupakan mainan tertua yang ditemukan di berbagai situs arkeologi dan masih bisa dikenali. Selain merupakan mainan anak-anak dan orang dewasa, gasing juga digunakan untuk berjudi dan ramalan nasib. Sebagian besar gasing dibuat dari kayu, walaupun sering dibuat dari plastik, atau bahan-bahan lain. Kayu diukir dan dibentuk hingga menjadi bagian badan gasing. Tali gasing umumnya dibuat dari nilon, sedangkan tali gasing tradisional dibuat dari kulit pohon. Panjang tali gasing berbeda-beda bergantung pada panjang lengan orang yang memainkan.
[7] Sakkaq manarang adalah orang cerdik (pandai besi) dari istana kerajaan.
[8] Pembuni adalah kawasan hutan yang dihuni suku-suku pribumi disebut topembuni (orang yang bersembunyi) disini yang dimaksud adalah suku terasing yang mendiami sekitar di wilayah Nunu (Palu) sampai Pasang Kayu atau yang sering disebut suku Torominggi (Binggu) yang saat itu dikuasai oleh kerajaan Mamuju.
[9] Lalombi merupakan wilayah administrasi di kecamatan Benawa, Kab. Donggala Sulawesi Tengah.
[10] “Lontar Mandar” yang ditransliterasi A. M. Mandra pada tahun 1991 (bagian dari Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.

Artikel premium silahkan hub.0856-5726-6525 (Wa)


Jumat, 09 Juni 2023

Mengurai Sejarah Lasalaga Dalam Perspektif Komparatif Literatur dan Folklore Mamuju

La Salaga dengan Keris Pusaka Manurung atau Keris Badung adalah mitos yang tak surut oleh zaman tak lekang oleh waktu dalam sejarah peradaban Mamuju. Cerita ini menjadi sebuah legenda yang berbalut mitos, sehinga cerita kesaktian pusaka Manurung menjadi bahan perbincangan dan perdebatan oleh kalangan budayawan dan penggiat sejarah di kabupaten Mamuju, menjadi sebuah cerita yang melegenda dengan gelaran ritual adat “Massosor Manurung” atau pencucian pusaka ini. Lasalaga dan Pusaka Keris Manurung adalah dua hal yang tidak terpisahkan karena dipercaya secara turun-temurun oleh masyarakat Mamuju sebagai pasangan legendaris antara benda pusaka dan seorang manusia yang dilahirkan secara bersamaan.

Cerita legenda ini sangat menarik untuk kita kaji bersama, pertama karena cerita legenda ini merupakan simbol kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Mamuju sebagai kerajaan yang ada di Mandar dengan kerajaan Badung yang berada di pulau Bali sehingga secara historis kerajaan Mamuju memiliki hubungan istimewa yang sampai hari ini masih terjaga. Yang kedua adalah karena cerita ini sudah sangat melegenda sehingga nilai nilai sejarah yang terkandung dalam cerita ini begitu kuat dalam ingatan dengan alur cerita yang melahirkan banyak kontroversi dari penuturan yang berbeda beda, ada beberapa versi cerita tapi nama tokoh dan alurnya tetap sama misalkan ada yang mengatakan bahwa Pusaka Manurung adalah keris yang berasal dari kerajaan Badung ada juga yang mengatakan berasal dari rahim ibunda Lasalaga atau kata lain lahir kembar dengan Lasalaga. 

Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menguji dan mengkaji seperti apa cerita ini dalam metode berfikir yang lebih logis baik melalui pendekatan secara historis maupun pendekatan secara ilmiah dengan mengkomparasi beberapa data - data baik berupa literatur seperti lontrak Pattodioloang Balanipa Mandar, Lontrak Kurungan Bassi maupun data dari sumber naskah lainnya seperti arsip maupun beberapa data silsilah. Mengingat cerita legendaris ini diperkirakan terjadi pada periode abad ke 16 M. Dimasa ini kerajaan Mamuju belum menjadi sebuah kerajaan besar atau sebelum kerajaan Kurri-kurri di Selatan dan Managalllang dibagian Timur ditaklukkan oleh kerajaan Mamuju.

Cerita epik Lasalaga ini merupakan tutur lisan masyarakat Mamuju dengan segala kontroversi yang melatarbelakangi peristiwa dalam kisahnya. Lasalaga dikisahkan sebagai romantika percintaan antara dua manusia di Kerajaan Mamuju (Mandar) dan Kerajaan Badung (Bali) pada akhir abad ke 16 Masehi. Semula kami hanya mengambil sumber penulisan yang berasal dari sebuah manuskrip kuno berupa lontrak yang sudah ditransliterasikan kedalam bahasa Indonesia yang kemudian dijadikan satu buku. Berikut adalah kutipan yang tertulis dalam lontrak Pattodioloang Mandar :

Diammo pole puang Bali. Mera-arappuang tobainena Bali. Diammo uppessanni Maraqdia di Mamuju. Nauwamo maraqdia di Mamuju; Sauo mieq uragai. Sau-mi diuragai. Nauwamo tosau; inggae tama dibinanga. Mettamami dibinanga. Di lalani dibinanga, naummi maraqdia Mamuju di Lopinna, mallaulimmi naung maraqdia di Mamuju dilopinna Tomalolo. Bongi-bongi tomi tia mattambung to Mamuju batu binanga. Apa mauammi namalai Puangnga Bali dimaraqdia Mamuju. Meqitai lao mali-malimang, menggittir dami bondeq tangnga, iqdami mala messung lopinna, mattommi di Mamuju. Napebainemi
maraqdia Mamuju. Mangidammi, apamo nangidanni, tirang, iamo anna maqandemo tau tirang. Maqangidanni toi bua-bua aju apaq iamo nangidanni. Battangi, malaimi sau di banuanna. Polei sau meanaqmi tommuane, siolami dipeanang kobiq. Iyyamo disanga Lasalaga.

Sehingga suatu hari datanglah kapal-kapal dari kerajaan Badung- Bali berlabuh di kawasan pantai namun kapal kapal tersebut belum merapat dipelabuhan kasiwa. Baru setelah seorang masyarakat melaporkan kepada Maradia (raja Mamuju) bahwa ada rombongan kapal yang mendekati perairan Mamuju. Berkatalah Maradia ”Sau o mie' uragai ” makna kata ”uragai” berarti menemui atau menyuruh untuk menemui rombongan kapal itu. 

Maka berangkatlah orang suruhan Maradia menuju rombongan kapal orang Bali dan memerintahkan mereka untuk masuk ke muara sungai dan merapatkan kapal - kapal mereka ke dermaga (labuang) ”...Sau-mi diuragai. Nauwamo tosau; inggae tama dibinanga. Mettamami dibinanga. Di lalani dibinanga. naummi maraqdia Mamuju di Lopinna”. 
Kutipan lontrak menjelaskan bahwa setelah rombongan kapal -kapal orang Bali merapat ke tepian pantai Mamuju tepatnya didekat muara sungai Mamuju disebuah perkampungan yang disebut Kasiwa maka Maradia segera mengutus seseorang untuk menemui rombongan kapal orang - orang Bali dan Maradia memerintahkan untuk masuk ke muara sungai untuk berlabuh.

Penulis lontrak mengisyaratkan bahwa di dalam salah satu kapal tersebut membawa beberapa keluarga kerajaan Badung dan beberapa perempuan yang diceritakan memiliki paras yang cantik, sehingga disebut ”meraarrapuang tobainena bali” kalau kita mengartikan bahwa makna merrarapuang terdiri dari dua suku kata yaitu merrara - puang bermakna merarra = (berdarah), Puang : (bangsawan), atau Perempuan Bali yang berdarah bangsawan. 

Tentang maksud kedatangan orang - orang Bali ini dalam lontrak tidak disebutkan. Pendapat lain mengatakan bahwa kedatangan orang Bali adalah bertujuan untuk menghadiri undangan pesta makan atau kenduri seperti yang ditulis oleh Abdul Rasyid Kampil dalam tulisannya (Balada abad ke XVI Masehi). 

Bersambung....
Login


Mengurai Sejarah Lasalaga Dalam Perspektif Komparatif Literatur dan Folklore Mamuju (bag.2)

Mengenai cerita legenda Lasalaga ini salah satunya telah ditulis dalam sebuah kumpulan catatan arsip berbahasa Belanda pada judul halaman ”Nota bevattende eenige gegevens betreffende het landschap Mamoedjoe”. Dalam TIJDSCHRIFT VOOR INDISCHE TAAL, LAND, EN VOLKENKUNDE. Terbit pada tahun 1911 Oleh Kumpulan Masyarakat Seni Dan Ilmu Batavia. Yang disusun dan ditulis kembali oleh DR. Ph. S. Van Ronkel. Pada sub judul; Legende omtrent de rijkssieraden.

 ”Op een goeden dag ankerde in de monding der Mamoedjoe rivier de prauw van den Balischen vorst van Badoeng, die herwaarts gekomen was om hanen gevechten bij te wonen. Diep verborgen in de prauw bleef zijn dochter”.
Terjemahan: ”Suatu hari, di muara sungai Mamudjoe, perahu raja Badoeng Bali yang datang ke sini untuk menonton sabung ayam berlabuh di muara sungai Mamujoe.  Putrinya tetap tersembunyi jauh di dalam prahu”.

Dalam catatan tersebut seolah bahwa kedatangan raja Bali ke Mamuju bertujuan bukan untuk menghadiri undangan untuk acara adat seperti yang sering di ceritakan akan tetapi untuk menghadiri undangan dari raja mamuju untuk mengadu ayam (sabung) dari Mamuju dengan ayam dari kerajaan Bali dan diantara mereka seorang perempuan yang cantik ikut pula dalam kapal rombongannya jauh tersembunyi dalam sebuah kamar di dalam perahu tersebut sehingga terdengarlah oleh raja Mamuju tentang kecantikan Putri Badung tersebut. 

”De zoon van den Maradia, die toenmaals aan het bestuur en gehuwd was met de dochter van den eersten tomakaka der Sinjonjoi. nenek Deilomale, hoorde de schoonheid van het Balische meisje roemen, wist de wachters met veel geld om te koopen en verbleef een nacht bij de schoone”.
Terjemahan: ”...Anak laki-laki Maradia yang saat itu sedang dalam pemerintahan, dan menikah dengan putri tomakaka pertama Sinjonjoi, nenek Deilomale (Daeng Lumalle).  Mendengar kecantikan gadis Bali dipuji, menyuap penjaga dengan uang banyak dan menginap semalam dengan si cantik..”

Anak laki-laki Maradia (raja) yang dimaksud adalah Tomejammeng anak dari Maradia Pue Todipali. Tomejammeng yang saat itu sebagai Maradia Mamuju sebenarnya terlebih dahulu sudah menikahi anak dari Tomakaka Padang (Sinyonyoi) yaitu cucu Daeng Lumalle bernama Topelipaq Karoroq, dari pernikahan pertamanya ini lahirlah seorang putra bernama Puatta di Mamuju dan garis keturunannya menjadi raja berikutnya di Mamuju. 

Secara jelas ini tertulis dalam Lontrak ;”...Tomejammeng mo mappakaiyyang litaq di Mamuju, iya tomo nipenang siola kobiq,  Sialami masapo pissang, Anaqmi Puatta di Mamuju, Puatta mo di Mamuju upeanani Tomatindo Disambajangnga, Tomatindo mo Disambajangngga uppeannani Tomatindo Dipuasana...” dan ”... Apa kaiyyangi anaq dininna di Mamuju, matemi amanna. Sauwi nala Tomamuju. Polei sau, iqdai napebei puang Bali. Malaimi Ieqmai. Polei leqmai, marusaqmi mamuju,  apaq anaq dininnamo maraqdia. Iqdamijari ande..”

Setelah menganalisa maksud kalimat lontrak dan catatan arsip diatas jelas kita bisa mendapatkan satu kesimpulan bahwa ”siala mosapopissang” dari pernikahan Tomejammeng dengan sepupunya Topelipaq Karoroq inilah yang melahirkan seorang anak bernama Puatta di Mamuju dan seterusnya adalah keturunannya yang menjadi raja di Mamuju. Maksud dari ”ana' dininna” adalah anaknya yang dari pernikahan sebelumnya. 

Selanjutnya Tomejammeng melihat sendiri kecantikan Sang Putri dan akhirnya menjalin suatu hubungan dan menikah hingga si perempuan mengidam. Berbeda dengan catatan arsip yang mengatakan mereka menjalin hubungan tanpa diketahui oleh siapapun sampai saat kembali pulang ke tanah Bali; 
"..De niets kwaads vermoedende vorst zeilde naar Bali terug en moest weldra outwaren dat zijne dochter zwanger was. Vol verontwaardiging verstiet hij haar en schonk zij in de wildernis het leven aan een zoon...". Terjemahan: ”Raja yang tidak curiga itu berlayar kembali ke Bali dan segera mengetahui bahwa putrinya hamil.  Dengan dipenuhi kemarahan, dia (raja) menolaknya, dan dia melahirkan seorang putra di padang gurun”. 

Sedangkan lontrak mengatakan : ”... naummi maraqdia Mamuju di Lopinna, mallaulimmi naung maraqdia di Mamuju dilopinna Tomalolo..” dan ”...Napebainemi maraqdia Mamuju. Mangidammi, apamo nangidanni, tirang. Iamo anna maqandemo tau tirang. Maqangidanni toi bua-bua aju apaq iamo nangidanni. Battangi, malaimi sau di banuanna. Polei sau meanaqmi tommuane..”. artinya; Turunlah raja Mamuju ke perahu wanita yang cantik itu (putri Bali) dan diperistrilah oleh raja Mamuju. Ngidam-lah, ngidam kemauan untuk makan tiram (sejenis kerang laut) itulah sehingga kita (orang Mamuju) juga makan tiram, dan juga buah-buahan yang diinginkan, Hamil-lah, sehingga pulanglah dia kekampungnya (Bali) sesampainya disana dia melahirkan anak laki-laki. 

Diceritakan bahwa setiap malam ketika mengunjungi putri Badung di kapal, di setiap malam pula beberapa orang suruhan raja turun kesungai untuk menutup jalur kapal dengan batu-batu agar kapal tersebut karam dan tidak bisa keluar dari muara sungai. Ada kesamaan alur cerita dari lontrak dan arsip namun berbeda menceritakan dalam hal hubungan antara keduanya, dalam lontrak dikatakan mereka menikah (napebaine) artinya memperistri putri Badung tapi dalam catatan arsip Belanda itu adalah kebalikannya. (Arman Husain 2023).

Login


Kamis, 26 Januari 2023

Peranan Etnis Tionghoa Dalam Pembangunan Kabupaten Mamuju

 Partisipasi Membangun Bangsa Makin Terbuka

REFORMASI yang membuka keran persamaan hak dan kewajiban bagi seluruh Warga Negara Indonesia (WNI), dinilai Hengky Hamdani, salah seorang warga Mamuju keturunan etnis Tionghoa, membuka lebar partisipasi membangun bangsa.


Apalagi Undang-undang Nomor 12 tahun 2006 tentang kewarganegaraan telah menempatkan etnis Tionghoa sama dan setara kedudukannya dengan WNI lainnya dalam hukum dan pemerintahan. Beberapa etnis Tionghoa di Mamuju, bahkan telah berkecimpung di ranah perpolitikan. Salah satu di antaranya adalah Willianto Tanta yang menjadi bendahara DPD I Partai Golkar Sulbar atau pemilik PT Karya Mandala Putra, Imming Wijaya, yang pernah duduk di kursi legislatif DPRD Mamuju selama dua periode.


“Dulu memang kami cuma bekerja di bidang perekonomian saja. Untuk jadi PNS, susah. Tetapi sejak reformasi, etnis Tionghoa juga sudah bisa jadi polisi, tentara, atau menteri. Di Makassar, sudah ada etnis Tionghoa yang ikut mencalonkan diri jadi walikota. Sekarang, perayaan Imlek juga sudah tanggal merah (hari libur nasional,red),” tuturnya.


Menurut Hengky, pada dasarnya warga keturunan Tionghoa sama dengan masyarakat lainnya yang memiliki nasionalisme yang tinggi dan mampu menjadi warga negara yang baik. Hanya saja diakuinya, pelibatan etnis Tionghoa dalam berbagai bidang, jarang dilakukan pada masa sebelum reformasi.


Meskipun demikian, ujar bapak dari tiga orang putra itu, asimilasi atau pembauran etnis Tionghoa dengan dengan warga atau etnis lain yang ada di Mamuju telah terbangun sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Hampir seluruh warga Mamuju yang terbilang telah lama menetap, dikenalnya dengan baik. Pengkotak-kotakan pribumi dan non pribumi juga tidak pernah ada.


Hengky meyakini, setiap suku pasti memiliki perbedaan sifat dan karakter. Filosofi yang dipegangnya ini membuat dia kadang lebih akrab dalam hubungan kekerabatan dengan etnis lainnya. “Tidak mesti bahwa kita hanya bergaul akrab dengan sesama Tionghoa saja. Saya bahkan lebih akrab dengan saudara dari suku lainnya,” kata pria kelahiran tahun 1945 itu.


Vihara kelurahan Binanga 

Jumlah penduduk Kabupaten Mamuju beberapa tahun yang lalu, ungkapnya, masih belum terlalu banyak. Hal ini juga yang membuat mereka lebih cepat akrab dan berbaur dengan warga lainnya. Apalagi penduduk di kota yang telah menjadi ibukota provinsi ini merupakan multietnis sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu.


Kepedulian terhadap sesama yang tergolong kurang mampu atau tertimpa musibah, diwujudkan dengan melakukan kegiatan sosial. Dananya diperoleh dari sumbangan semua warga etnis Tionghoa di Mamuju sebagai saldo kas yang dikumpulkan setiap bulan.


Open house dengan mengundang kerabat, tetangga, atau teman, kata dia, juga telah dilakukan sejak dahulu untuk lebih menjalin keakraban. Memang diakuinya, kegiatan seperti ini jarang terlihat karena komunitas etnis Tionghoa di Mamuju tidak sebesar di kota-kota lain, seperti Makassar.


Kenali Bahasa dan Budaya Lokal


KEHADIRAN etnis Tionghoa di Mamuju diperkirakan telah ada sejak tahun 1920-an. Orang tua Hengky Hamdani, merupakan generasi pertama di kota itu. Lazimnya di kota-kota lain, mereka masuk melalui jalur perdagangan.


Didukung kota yang terbilang tidak luas, memudahkan proses asimilasi atau pembauran dengan warga lainnya. Salah satu upaya mempercepat hubungan kekerabatan dengan warga lain dengan mempelajari dan menguasai Bahasa Mamuju, karakter, dan budaya lokal, sehingga komunikasi terjalin baik dengan semua kalangan.


Kawasan pecinan dengan model rumah yang khas pernah ada di sekitar Jalan Yos Sudarso, tepat di depan Pantai Mamuju. Namun, lambat laun mereka semakin menyebar dan membaur dengan warga lainnya. Etnis Tionghoa yang umumnya berdagang, berada di sekitar tempat-tempat strategis yang ramai dikunjugi orang, misalnya pasar.


Tempat ini pulalah yang mempertemukan mereka dengan saudara lainnya dari etnis berbeda, sehingga terjadi asimilasi yang didasarkan prinsip saling membutuhkan. Pedagang membutuhkan konsumen, dan sebaliknya. Tentunya bukan hanya etnis Tionghoa yang memilih dagang sebagai mata pencarian, sehingga hubungan simbiosis semakin kompleks.


Hengky yang lahir, besar, dan beranak cucu di Mamuju, mengenang, sekitar tahun 1970-an, akses jalan darat belum terbuka. Hubungan dengan Makassar dilakukan dengan transportasi laut. Akses jalan darat baru terbuka dengan baik sekitar dekade 90-an.


Berasimilasi dengan Saling Menghormati


PEMBAURAN etnis Tionghoa dengan warga Mamuju dari etnis lainnya terus berlanjut hingga generasi berikutnya. Asimilasi dilakukan sampai pada bidang pendidikan. Tidak ada sekolah di Mamuju yang dieksklusifkan untuk kelompok tertentu.


Semua berbaur dalam satu sekolah yang di dalamnya tidak terdapat perbedaan berdasarkan kesukuan. Anak-anak etnis Tionghoa belajar di sekolah dasar yang juga digunakan warga lainnya agar dapat belajar membaurkan diri sejak dini.


Irwan, pemilik Toko Satu Dua, berharap keakraban dengan warga lainnya yang telah dilakukan orang tua sebelumnya, juga dilakukan generasi selanjutnya. “Memang beberapa warga lain yang baru masuk ke Mamuju, jarang kami kenal. Tapi kalau yang sudah lama tinggal di sini, hampir kami kenal semua,” katanya.


Sikap toleransi dan saling menghargai dengan sesama, pesannya, yang paling dibutuhkan agar dapat tetap menjalin hubungan kekerabatan dengan orang lain. Salah seorang saudara kandungnya yang memilih memeluk Agama Islam, ujarnya, sangat dihormatinya, termasuk seluruh pantangannya telah diketahuinya dengan baik.


“Kami tidak mengenal batasan hubungan sejak dahulu. Bahkan dulu, waktu penduduk Mamuju belum banyak seperti sekarang, kalau kita naik bus ke Makassar, semua penumpang kita kenal baik. Bapak saya dari Mandar, jadi sangat cepat akrab dengan warga lain. Apalagi kita biasa kumpul-kumpul kalau ada acara,” bebernya.


Kursi Legislatif Bukti Kepercayaan Masyarakat


KETUA Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Mamuju,  Imming Wijaya, mengaku salut dengan keterbukaan dan penerimaan warga di Mamuju terhadap etnis Tionghoa. Diskriminasi dari masyarakat dan pemerintah, secara umum, kata dia, tidak pernah dirasakan hingga keturunan generasi kelima saat ini. Memang diakuinya, kemungkinan masih ada segelintir orang yang masih membedakan, tetapi tidak dapat digeneralisasi.


“Sejak awal, mulai lahir, besar, dan beranak cucu, kami telah diterima dengan baik dan dapat berpartisipasi dalam banyak hal. Saya dapat duduk di kursi legislatif DPRD Mamuju selama dua periode, menjadi bukti, bahwa kami diterima di masyarakat untuk mewakili rakyat” tutur pria kelahiran Mamuju tahun 1954 silam.


Etnis Tionghoa di Mamuju sejak menjadi ibukota Provinsi Sulbar terus bertambah seiring pertumbuhan pembangunan dan perekonomian. Jumlah keluarga keturunan etnis Tionghoa yang tercatat (PSMTI) Mamuju saat ini sebanyak 120 kepala keluarga.


Saat Mamuju belum menjadi ibukota provinsi, jumlah etnis Tionghoa hanya sekitar 30 kepala keluarga. Pintu Mamuju semakin terbuka lebar setelah menjadi pusat kota dan etnis Tionghoa lainya terus berdatangan dari Kota Palopo, Makassar, dan kota-kota lainnya.


Imming, mengemukakan, pertambahan jumlah etnis Tionghoa serta lahirnya PSMTI sejak beberapa tahun lalu, juga semakin memperbesar jalinan hubungan kekerabatan dengan warga lainnya. Kegiatan bakti sosial untuk membantu warga yang kurang mampu, menjadi salah satu agenda rutin PSMTI