Mamuju Ethnic

Informasi & Literasi Budaya Mamuju

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Juli 2019

Mamuju Dalam Catatan Dalton 1827-1828

Sejak ditandatanganinya Perjanjian antara Belanda dan Kerajaan Britannia Inggris pada 17 Maret 1824 yang dikenal dengan Treaty Of London atau Traktat London. Penguasa Hindia Belanda di Singapura Sir Thomas Stamford Rafflesia membuat kebijakan perdagangan bebas yang membuat pemerintah Hindia Belanda harus memberi kebebasan kepada para pedagang dari berbagai penjuru Asia bebas berdagang di Singapura, ini kesempatan  pemerintah Kerajaan Britannia mulai melakukan eksplorasi kesemua bagian wilayah Hindia Belanda untuk kepentingan monopoli dagang.

Seorang Pedagang dan Pengelana John Dalton yang pernah datang mengunjungi wilayah Mamuju, setelah mengunjungi Coti (Kutai) di Kalimantan Timur, Dalton juga sempat mengunjungi beberapa wilayah lain di Nusantara seperti Makassar, Bali, Kepulauan Nias dan beberapa wilayah asia tenggara lainnya seperti; Philipina (kep.sulu) Siam, China dari tahun 1824.


Buku, Notice Of Indian Archipelago And Adjacent Countries.
J. H. Moor. In Published Singapore Chronicle 1831




Dalton meninggalkan Singapura pada 1827 dengan menggunakan 15 perahu dagang milik Sultan Kutai pada 3 Oktober 1827 dan memutuskan untuk mengunjungi Kutai sebuah wilayah di Pantai Tenggara Kalimantan setelah mendapat surat rekomendasi dari pemerintah Singapura untuk Raja Kutai. Dia ditemani oleh seorang pengelana yang berkebangsaan Denmark bernama Hecksler  yang terlebih dahulu pernah berkunjung dan tinggal di berbagai wilayah di Kalimantan beberapa waktu lamanya.

Setelah berhari hari mengalami berbagai kesulitan diperjalanan dan diburu Bajak Laut, akhirnya Dalton tiba di Muara Sungai  Kutai pada 7 Desember 1827 dan melakukan perjalanan selanjutnya melalui sungai sampai ke Tenggarong sampai 11 Desember. Setelah berbulan bulan lamanya Dalton merasa tidak betah lagi di Kutai dan akan segera meninggalkan Kerajaan Kutai karena sering berhadapan dengan masalah perampokan dan penyerangan namun Sultan Kutai menahan agar mereka tetap tinggal. Ini dikarenakan Sultan takut mereka berdua ini telah banyak mengetahui yang dirahasiakan oleh Kerajaan kepada pemerintah Hindia Belanda mengenai misteri kematian salah seorang Perwira Belanda Kapten Muller di pedalaman Kutai 3 Tahun sebelumnya dan akhirnya Dalton membuat keputusan untuk berunding dan membuat perjanjian dengan Sultan Kutai dan akhirnya Sultan Kutai membiarkan Dalton meninggalkan Kerajaan Kutai dan bertolak ke Sulawesi melalui jalur terdekat yaitu ke Mamuju. Dalton tiba di Mamuju pada awal bulan Desember 1827. Setelah diterjang Badai dan Angin Barat dalam waktu yang cukup lama di laut, kapal Dalton akhirnya berlabuh dipelabuhan Kerajaan Mamuju.(Arman Husain 2019)





Sumber : John Dalton, Notice Of Indian Archipelago And Adjacent Countries. J. H. Moor. In Published Singapore Chronicle 1831 
Login


Kamis, 16 Mei 2019

Mamuju Dalam Catatan Dalton 1827-1828 Bag. II


Mamuju adalah sebuah perkampungan besar diwilayah pesisir barat Sulawesi yang bertopografi dataran tinggi dan rendah. Wilayah sepanjang utara bagian barat sampai selatan adalah deretan pegunungan dan perbukitan dengan hutan dan tumbuh berbagai jenis tanaman subur. Disepanjang pesisir pantai dan daratannya tumbuh dengan subur kelapa yang menjadi komoditas perdagangan penduduk yang paling utama selain sagu. Sagu adalah makanan pokok penduduk Mamuju kala itu. Mamuju saat itu yang jumlah penduduknya hanya berkisar 2500 orang kepala keluarga, pada malam hari terlihat cahaya terang dari rumah- rumah penduduk diatas perbukitan dan dekat pantai, mereka membakar kayu atau api unggun sebagai penerangan. Terlihat perikehidupan penduduk Mamuju ini sangat mirip dengan beberapa suku bangsa yang ada di Nusantara mereka hanya mengandalkan sumber makanan dari bercocok tanam dan melaut. Terlihat kala itu masih terdapat kesamaan dengan orang – orang pedalaman Kalimantan seperti dalam berpenampilan menggunakan perhiasan atau manik-manik dan memakai senjata tajam tradisional tapi tidak memiliki praktek dalam ritual adat mereka memburu dan memotong kepala musuh seperti orang Dayak di Kalimantan.

Laporan John Dalton "Mamoodjoo In Mandhaar" 1827-1828


Pada bulan November 1827 satu bulan sebelum kedatangan Dalton ke Mamuju telah terjadi pembakaran dan perampokan di daerah ini, seorang kepala perampok bernama Sindana (?) bersama - sama dengan komplotannya membakar sebahagian besar rumah- rumah  penduduk. Beberapa orang terbunuh dan menangkap kurang lebih 300 orang yang sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan ditawan dan sebagian dijadikan budak.  Bahkan selama Dalton menetap di Mamuju selama 10 minggu, wilayah Mamuju telah didatangi dua kawanan perompak lainnya yang satu berasal dari Kaili dan lainnya berasal dari Pambowan Mandar, setelah sebelumnya rumah-rumah penduduk yang terbakar dan sebagian penduduk kembali setelah melarikan diri ke pegunungan, mereka harus kembali dirampok dan dijarah oleh para perampok dari Kaeili, mereka menembaki kampung ini dan mengambil setiap perahu nelayan yang ditambatkan dipantai. Mereka berjumlah hingga 134 kapal dari berbagai ukuran menakut-nakuti penduduk Mamuju dengan tembakan meriam dari pantai, sampai pada saat itu tiba pula perompak dari Pambowang Mandar dan berhasil mengusir perompak dari Kaeli ini. Namun perompak ini tidak jauh berbeda dari yang lainnya, mereka memaksa Raja Mamuju untuk mengumpulkan harta benda penduduk, sebagai bentuk upah atas jasa mereka mengusir perompak dari Kaeli. Para perompak ini menggunakan bendera kerajaan Belanda sebagai bentuk penyamaran agar penduduk tidak curiga sebelumnya dengan menyangka bahwa kapal – kapal ini adalah milik kerajaan Belanda yang sedang berlayar.

Mereka tidak pandai menanam Padi disebabkan belum ada pengetahuan mereka bersawah seperti kebanyakan masyarakat di Kaili dan Kalimantan, penduduk Mamuju hanya mengandalkan sagu sebagai bahan makanan pokok yang memang tumbuh subur ditanah ini, beberapa kawasan ke Tenggara, Timur dan Selatan di kampung Mamuju adalah hutan pohon sagu yang tumbuh subur memanjang sejauh mata memandang. Dan kebanyakan itu adalah milik Raja dan menyewakannya kepada penduduk untuk dikelola kemudian sebahagian hasilnya diserahkan kepada Raja Mamuju setiap tahunnya sedangkan beras adalah makanan mewah yang hanya dapat diperoleh dengan membeli dari pedagang yang datang dari Kaili, Passier dan Kutai, walaupun beras tersebut kualitasnya sangat rendah tapi tetap merupakan bahan makanan yang mahal dan tidak semua keluarga mampu untuk membelinya, diperkirakan hanya sekitar 250 keluarga yang bisa mengkomsumsi beras. Hanya orang – orang yang mampu membeli gabah itupun mereka hanya mengkumsumsi beras setelah kapal – kapal dagang dari Kaili merapat kepantai Mamuju, adapun beras yang biasa datang dari Passier atau Kutai (Kalimantan) yang biasa membawa beras dengan kualitas yang bagus namun harganya sangat mahal, sehingga sagu tetap menjadi pilihan untuk dijadikan makan pokok penduduk Mamuju.

Aktifitas ini merupakan profesi sebahagian besar penduduk pribumi asli suku Mamuju, mereka merawat dan mengumpulkan hasil panen sagu ini kepada para bangsawan dan orang kaya Bugis yang ada di Mamuju dan memperoleh upah atas kerja mereka seperti; garam, gula, perhiasan, dan kain dan bagian atas sagu yang mereka kelola. Waktu terbaik biasanya mereka mengelola sagu yang sudah berumur 8 dan 10 tahun sampai 35 tahun, karena jika sudah lewat dari periode itu maka pohon sagu akan membusuk dan berulat. Pohon sagu yang berumur sepuluh tahun akan tumbuh sampai ketinggian 27 kali dan 5 sampai 8 kaki dari pangkal pahon akan terus menerus dapat di panen selanjutnya selama 2 sampai 3 bulan, yang biasanya tebal sagu telah mencapai 3 sampai 5 inchi sesuai kualitas tanah tempat tumbuh pohon.

Selain sagu, kelapa adalah tumbuhan jenis palem yang paling banyak tumbuh diwilayah ini dan menjadi komoditas unggulan dalam aktifitas perniagaan masa itu, hampir disepanjang pesisir pantai Mamuju banyak tumbuh kelapa selain kuantitas juga kualitas kelapa dari wilayah Mandar utamanya di Mamuju adalah kelapa yang paling banyak dicari oleh pedagang- pedagang lokal. Selain kualitasnya yang bagus harga kelapa di Mamuju juga murah sampai 200 real perbiji, lebih murah dari kelapa di wilayah Kaeili yang berkisar 300 sampai 350 real dan harganya lebih mahal lagi jika kelapa masih muda dibanding kelapa yang tua. Hampir setiap penduduk di Kampung ini memiliki aset tanaman ini dan menjadi barang unggulan untuk dipasarkan. Bahkan masyarakat Mandar kala itu telah mampu membawa barang dagangan mereka sendiri keberbagi wilayah untuk dipasarkan seperti ke Kalimantan, Makassar bahkan sampai ke Singapura.

Penduduk Mamuju juga telah mengenal cara menangkap ikan dan mengambil kerang-kerangan dilaut untuk dijadikan bahan makanan pendamping sagu (lauk). Pribumi Mamuju bukanlah pelaut ulung seperti penduduk dari daerah Mandar lainnya, mereka hanya suka berdagang dan bercocok tanam dan tidak mahir dilaut. mereka mengumpulkan kerang-kerangan, kepiting dan ikan laut pada saat air terjadi pergantian pasang surut laut disepanjang pantai. Ini dilakukan pada saat bulan purnama ketika air laut surut mereka menggunakan sampan kecil dan kebanyakan yang melakukan adalah perempuan dan anak-anak. Hasil tangkapan mereka kadang kala dijual kepada Raja bahkan kepada kalangan bangsawan dan orang – orang Bugis yang lebih kaya, walaupun dijual dengan harga yang sangat murah tetapi mereka tak punya pilihan selain itu demi mencukupi kebutuhan hidup mereka untuk mendapatkan sedikit kebutuhan dapur seperti; garam, gula dan tembakau, yang biasa didapatkan dari pedagang yang datang dari Makassar dan Kaeili. Mereka membeli kebutuhan mewah seperti beras dan gula hanya ketika akan melangsungkan acara-acara seperti perkawinan ataupun kelahiran seorang anak. Selain berdagang kelapa biasanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka juga sudah mahir membuat kain tenunan (sarung) yang biasanya dikerjakan oleh kaum perempuan dan keluarga yang memiliki budak akan membantu mereka membuat tenunan sepanjang hari yang akan dijual seharga 2 real atau 4 Rupee perhelai kainnya.

Di Mamuju kebiasaan menghisap candu (opium) sudah ada sejak dahulu, bahkan ini adalah kegiatan yang sangat rutin dilakukan oleh para bangsawan dan keluarga kerajaan kala itu. Ketika seorang utusan yang datang dari Makassar membawa surat, dia harus menunggu selama 2 hari untuk mendapatkan balasan surat dari Raja, agar raja benar-benar sudah sadar dari rasa mabuk opium. Komsumsi candu ini hanya terbatas pada kalangan yang mampu membelinya saja seperti bangsawan dan kaum kaya saja. Konsumsi opium di Mamuju adalah 5 sampai 6 peti pertahunnya, harga perpeti biasanya 2000 sampai 2400 real perkeranjang/ peti. Dikatakan dalam catatannya bahwa Raja dan beberapa bangsawan dan keluarganya memiliki harta kekayaan berupa emas yang banyak dan memiliki fasilitas hidup yang sangat mewah. Ini dikarenakan di beberapa bahagian wilayah kerajaan Mamuju terdapat banyak tambang emas milik keluarga Raja  yang akan diserahkan pada Raja 10 sampai 20 persen setiap tahunnya. Emas ini juga dijual ke Singapura dan Penang dengan harga 23 sampai 25 real perbuncal (?) di Singapura 30 Dolar / 78 Rupee Jawa. Salah seorang saudara Raja menawarkan kepada Dalton bahwa dia mampu membayar 10.000 buncal emas hanya dalam waktu 5 hari saja, dalam bentuk bongkahan dan serbuk jika mereka bisa mendapatkan senapan, meriam buatan Palembang, mesiu dan 5 peti opium.

Emas ini digunakan untuk membeli berbagai kebutuhan seperti: opium, mesiu Amerika, musket, gilingan dan barang lainnya berupa senjata meriam palembang (Lantaka). Untuk mesiu buatan Amerika ini mereka dapatkan dari Passier seharga 45 real perbarel/pikul yang biasanya harga bubuk Mesiu ini 30 hingga 90 Real/ Pikul, Senapan seharga 7 Dollar. Namun seringkali mesiu ini berapapun banyaknya hanya terbengkalai tidak digunakan oleh mereka walaupun telah dibeli dengan harga yang sangat mahal bahkan mereka akan menjualnya kembali ke Kaili atau ke tempat lain di Mandar. Sedangkan untuk candu (opium) mereka membeli dalam jumlah yang banyak untuk mereka konsumsi beberapa bulan kedepannya. Sepertinya kebutuhan candu dan mesiu lebih diprioritaskan dibanding dengan kebutuhan dasar lainnya sehingga kekayaan emas yang mereka simpan kadang mereka simpan hanya untuk membeli kedua barang ini. Tentang melimpahnya emas di Mamuju ini selalu mereka rahasiakan kepada orang – orang dari luar utamanya kepada perompak demi keselamatan awak kapal yang berlayar membawa dagangan ke Singapura. Berita ini juga dirahasiakan kepada para pedagang dari luar, pihak Belanda dan Inggris, karena jika mereka tahu akan kekayaan ini mereka tidak akan segan –segan akan menguasai Kerajaan ini, dan benar saja banyak perompak yang mengincar emas emas ini dengan menghancurkan dan menghabisi penduduk Mamuju saat itu demi harta berupa emas yang berlimpah disana. (Terjemahan dan penulisan oleh Arman Husain 2019)

Sumber : John Dalton, Notice Of Indian Archipelago And Adjacent Countries. J. H. Moor. In Published Singapore Chronicle 1831.




Login


Jumat, 14 Desember 2018

Tintilingang legenda Dari Mamuju

Dalam tradisi lisan masyarakat Mamuju kita sering mendengar nama Tintilingang yang menjadi sosok legenda Tobarani (jagoan) dari bumi Manakarra ini. Namanya yang kini diabadikan sebagai nama salah satu jalan di lingkungan Kasiwa di Kelurahan Binanga Kecamatan Mamuju ini bagi masyarakat penduduk asli Mamuju pasti pernah mendengar dan tahu bagaimana kisah kehebatan Sang Jawara tersebut. 

Dikisahkan bahwa sosok Tintilingang ini berpostur tubuh kecil dan berkulit hitam dan memiliki kesaktian yang tinggi dan merupakan pendekar tak tertandingi dikalangan Tobarani dikerajaan Mamuju. Tidak banyak informasi tentang sosok ini hidup di masa siapa raja yang berkuasa saat itu, kuat dugaan bahwa beliau hidup di masa kejayaan kerajaan Mamuju yaitu Maradika Tomatindo disambayanna atau Lasalaga di tahun 1500.M. 

Ilustrasi gambar Tintilingang


Tintilingan hanyalah nama gelar yang disandangkan padanya yang berarti "PanTinting Talingang" yang diartikan dengan "orang yang menenteng telinga", digelar dengan Pantinting Talinga karena dikisahkan bahwa setiap telinga musuh musuh yang dikalahkan dalam perjalanannya akan dipotong dan diikat pada seutas tali dari kulit kayu kemudian dibawa pulang ke Mamuju sebagai pembuktian kepada Maradika Mamuju bahwa baginya tidak satupun jagoan mulai dari kerajaan Gowa sampai ketanah Mandar yang mampu menandingi kesaktiannya. 

Diceritakan bahwa suatu saat dimasa itu Raja Mamuju diundang oleh raja Gowa untuk datang menghadiri suatu gelaran adat di Kerajaan Gowa dan raja Mamuju pun berniat datang menghadirinya dengan membawa serta beberapa punggawa dan anggota keluarga kerajaan. 

Dan sebagai seorang punggawa kerajaan tentunya Tintilingang tidak mau ketinggalan untuk hadir, namun keinginannya itu tidak mendapat restu dari raja karena raja tahu bahwa Tintilingang punya sifat tempramen dan suka berkelahi dengan siapapun yang dianggapnya sok jagoan. Alhasil raja pun menolak Tintilingan ikut dalam rombongan tersebut.

Singkat cerita rombongan kerajaan Mamuju pun telah sampai dipelabuhan Gowa dengan perahu besar beserta Punggawa dan keluarga kerajaan, tapi alangkah kagetnya mereka tiba tiba sesosok manusia melompat keluar dari bawah buritan perahu yang tak lain adalah Tintilingang. Raja dan anggota kerajaan lainnya kaget dan heran melihat keberadaannya yang tiba tiba muncul dari bawah perahu tersebut, raja tentu saja marah dan mengingatkan Tintilingang untuk menjaga kehormatan kerajaan Mamuju dengan tidak berbuat sesuatu yang bisa merusak hubungan dengan kerajaan Gowa.

Melihat kehadiran Tintilingang dikerajaan Gowa para jagoan dan pendekar Gowa yang telah mendengar ketenaran Tintilingang ini ingin mencoba bertarung dengannya. Mereka berupaya menggoda Tintilingang dengan berkokok layaknya ayam jago yang bermakna isyarat untuk memancing siapapun untuk masuk arena untuk berduel jika ada yang menyahuti kokokan itu. Para punggawa kerajaan Mamuju dan berapa undangan dari kerajaan kerajaan lain tahu makna kokokan dari jagoan Gowa tersebut. Punggawa dan jagoan kerjaan Mamuju tidak mau terpancing dan berusaha menahan diri agar tidak terprovokasi dan berusaha menenangkan Tintilingang agar tenang dan bersabar. Semakin lama kokokan sang pendekar pendekar dari kerajaan Gowa ini membuat Tintilingang tak mampu menahan diri lagi, dengan suara lantang ia pun membalas kokokan tersebut. Semua undangan kaget dan tahu bahwa tidak lama lagi pasti terjadi pertarungan duel antar jagoan ini, dan benar saja akhirnya pertarunganpun terjadi.

Alhasil jagoan kerajaan Gowapun tumbang ditangan Tintilingang dan ini membuat raja Mamuju semakin murka melihat kelakuan Tintilingang yang telah mencoreng kehormatan raja Mamuju di gelaran adat yang seharusnya penuh dengan kedamaian. Namun raja Gowa menganggap itu hal yang pantas bagi jagoannya karena telah lebih dulu memancing situasi jadi kacau balau. Raja Mamuju akhirnya menghukum Tintilingang agar tidak ikut dalam perahu dalam perjalanan pulang ke Mamuju, sebagai hukuman Tintilingang harus berjalan kaki lewat darat jika ingin kembali pulang ke Mamuju seorang diri, dan harus membawa potongan telinga setiap jagoan dari kerajaan lain untuk membuktikan kasaktian dan keberanian yang dimilikinya. Lama berselang kemudian telah tersiar kabar akhirnya sang jagoan ini telah tiba di tanah Mamuju kembali.

Dan tentunya kedatangannya juga untuk membuktikan kepada Maradika (raja) Mamuju bahwa dia telah berhasil pulang dengan membawa seuntai telinga yang telah dipotong untuk membuktikan kesaktian dan keberanian Tintilangan Sang Jawara dari tanah Mamuju tidak tertandingi siapapun saat itu. (Arman Husain2018).



Sumber : wawancara dengan beberapa garis keturunan dan informasi dari penutur yang dapat dipercaya. Kisah ini ditulis bukan maksud apapun melainkan sebagai upaya pelestarian budaya dan sejarah di Mamuju, adapun jika cerita dari versi kami ada kekeliruan mohon untuk dikoreksi. Wassalam..


Kamis, 22 November 2018

Perlawanan Pattalunru (1863 - 1888).

Aksi Perlawanan rakyat atas pemberlakuan Kontrak Panjang (Lange Contrac) di kerajaan Tapalang ini oleh seorang bangsawan Kerajaan Tapalang oleh orang Belanda menyebutnya La Mataloengroe atau yang lebih dikenal dengan Pattalunru selama kurang lebih 31 tahun, bermula dari tahun 1863 sampai pada tahun 1888. Pattalunru adalah Putra dari Maradika Kerajaan Tapalang bernama Pabanari Daeng Natonga dan cucu dari mantan raja Tappalang Pua Caco Tamanggong To Gaggalang Patta ri-Malunda atau Cakeo Dg Marriba. Cakeo Dg Marriba pada mulanya adalah seorang bangsawan di kerajaan Tapalang sebagai Pabicara dalam Hadat Kerajaan Tapalang.

Ilustrasi gambar Pattalunru

Pattalunru adalah tokoh pemicu perlawanan di Kerajaan Tappalang dan Mamuju. Pattalunru sangat merepotkan kedudukan Belanda di Tapalang dan Mamuju, selama perlawanannya Pattalunru sering melakukan perusakan pos-pos Belanda, merampok kapal-kapal dagang yang melalui laut Mandar dan menjual budak ke perompak laut dari Sulu dan mangindano untuk ditukar dengan persenjataan dan mesiu, diduga bahwa yang melakukan perampokan di sekitar perairan Mamuju dan Tappalang. Sepak terjang perlawanan Pattalunru adalah akibat dari sikap anti penjajah yang dimilikinya dan atas penolakan Perjanjian untuk bekerjasama dengan pihak penjajah, dia merasa bekerjasama dengan pihak Belanda hanya akan menyengsarakan rakyatnya. Dan kemudian mulai mengadakan penentangan atas kesewenangan Belanda dalam kesepakatan kontrak perjanjian yang mengatur kehidupan kebebasan rakyat Tapalang dan Mamuju. Kemudian Pattalunru memutuskan untuk berpindah melakukan perlawanan menuju arah utara yaitu kekawasan hutan-hutan Karama setelah mendapat dukungan dari pamannya I Samanangi yang bergelar Tomampellei Sanjatana di wilayah sekitar hutan hutan Pangale Karama dalam perlawanannya. Di tahun 1883 Raja Mamuju Nae Sukur bersama-sama anaknya bernama Andi Calla menyerang Maradia Pangale ini yang telah mendukung perjuangan Pattalunru. Dalam penyerangan ke Karama ini pasukan kerajaan Mamuju dapat dikalahkan dan Andi Calla sendiri tewas dimedan pertempuran. 

Dan baru kemudian pada permulaan tahun 1888 Maradika Nae Sukur dipanggil oleh Pemerintah Hindia Belanda ke Makassar untuk menghentikan perlawanan Pattalunru yang bersembunyi di sekitar wilayah Sungai Karama (Mamuju) bersama dengan kelompoknya yang dianggap sering melakukan kejahatan perdagangan budak dan sering melakukan perampokan oleh pihak Belanda ini telah melanggar Perjanjian yang telah disepakati sehingga oleh pihak Kerajaan Untuk menumpas pemberontakan Pattalunru yang bermarkas di hutan-hutan di sekitar Karama. Pemerintah Hindia Belanda kemudian setelah Maradika Nae Sukur meminta bantuan pasukan dari Pemerintah Hindia Belanda di Makassar dengan mengirimkan satu Divisi Angkatan Laut untuk menghancurkan kedudukan Pattalunru beserta pengikutnya dengan satu kompi pasukan marinir menggunakan Kapal Perang Reinier Claszen, namun dalam gempuran pasukan ini tidak menemukan hasil apapun karena sehari sebelum kedatangan kapal perang ini, pasukan Maradia Pangale dan Pattalunru sudah meninggalkan tempat menuju masuk kehutan yang lebih jauh,  tidak lama setelah penyerangan itu Pattalunru menyerahkan diri satu bulan kemudian.

Setelah perlawanan Pattalunru berakhir baru kemudian kerajaan Mamuju mengambil alih pengawasan dan keamanan di wilayah kerajaan Mamuju kembali. Akibat ditangkapnya Pattalunru menyebabkan Pabanari Daeng Natonga (ayahanda Pattalunru) sangat menentang kepemimpinan Nae Sukur di Tapalang dengan sangat keras dengan cara menghasut para bangsawan agar Nae Sukur dilengserkan dari jabatannya, sehingga pada bulan Mei 1889 Maradia Nae Sukur menemui Gubernur Hindia Belanda di Makassar dan menyampaikan bahwa semua yang dilakukannya adalah niat baik untuk memperbaiki kekacauan di Tapalang dan meminta kepada Gubernur Hindia Belanda di Makassar bahwa beliau tidak lagi bersedia lebih lama memerintah di Tapalang, atas permintaan tersebut Gubernur Hindia Belanda melalui Asisten Residen di Mandar menyampaikan kepada Pemuka Hadat Kerajaan Tapalang melalui surat resmi untuk menyiapkan pengganti seorang raja baru.

Makam Maradia Pangale

Dan sejak saat itulah Nae Sukur turun tahta dan tidak lagi berkuasa di Kerajaan Tapalang maka terpilihlah Pabanari Daeng Natonga sebagai Maradia Tapalang yang baru dan memerintah sejak tahun 1889 sampai tahun 1892. Namun dimasa pemerintahan Pabanari Daeng Natonga yang memang anti Belanda banyak terjadi pembangkangan atas Perjanjian Kontrak Panjang yang pernah ditandatangani oleh Nae Sukur. Pabanari dianggap tidak kooperatif kepada Pemerintahan Belanda dan telah banyak melakukan pelanggaran atas Perjanjian Kontrak Panjang salah satunya adalah rakyat dibiarkan menjual hasil bumi keluar daerah tanpa diketahui oleh pihak Belanda. Setelah tiga tahun menjadi menduduki tahta, Pabanari dipanggil oleh Gubernemen Hindia Belanda di Makassar untuk memberikan pernyataan kepada pemerintah Belanda agar segera menyelesaikan konflik internal dikerajaan Tappalang, namun ultimatum pemerintah Belanda tersebut diabaikan hingga Pada tanggal 13 Juni 1892 Maradia Pabanari dan perangkat Hadatnya diberi waktu sampai dua bulan untuk mengundurkan diri dari jabatannya atau datang ke Makassar untuk memperbarui Perjanjian Panjang atau menerima konsekuensi pembangkangan tersebut. Tetapi Pabanari memilih mundur dari jabatannya.

Sebagai Raja terpilih baru di Tapalang Andi Musu Paduwa Limba menandatangani perjanjian kontrak dengan Belanda pada 31 Oktober 1892 sebagai pembaruan kontrak lama. Selama masa pemerintahan Andi Musu, penandatanganan kontrak tambahan (pertanian dan pertambangan) dengan pemerintah kolonial Belanda kembali dilakukan pada 23 Juni 1897, kemudian penandatanganan pembaharuan kontrak panjang pada 11 Juni 1905 antara Gubernemen dengan Maraqdia sebagai Zelfbeztuurder Landschaap Tapalang menurut model Celebes, dan pada 5 Oktober 1905 tambahan kontrak tentang penyerahan hak-hak bea pelabuhan dan urusan pelayaran kepada Gubernemen dengan pemberian ganti rugi.

Sampai hari ini setelah Pattalunru menyerahkan diri kemudian tidak diketahui apakah beliau ini ditangkap kemudian dihukum dibuang ketempat lain ataukah kematiannya karena hukuman eksekusi belum bisa dipastikan tapi yang jelas makam Pattalunru diyakini berada di Karama Pangale saat ini bersama makam dari Pamannya yaitu I Samanangi yang bergelar Tomampellei Sanjatana Maradika Pangale. (Arman-Husain 2018).
Login


Kamis, 20 September 2018

Fakta Pernah Terjadi Banjir Dahsyat di Mamuju (Mandar) 1938

Jika kita saat ini dihadapkan pada banyaknya daerah yang terdampak bencana alam berupa banjir yang melanda wilayah Sulawesi bahkan beberapa wilayah lainnya di Indonesia ini disebabkan pada awal bulan Desember 2019 sampai Januari 2020 saat ini curah hujan semakin intens turun hampir disemua wilayah di Indonesia. Di beberapa wilayah di Sulawesi Selatan - Barat juga baru baru ini terdampak banjir  seperti di Pare-pare, Pinrang, Barru, Pangkep dan bahkan di wilayah Sulawesi Barat (Mandar) juga dikabarkan ada beberapa titik wilayah yang terdampak banjir. Seperti di Mamuju Tengah di Kecamatan Pangale ada beberapa Desa yang terdampak. Dalam sejarah bencana alam seperti banjir bandang ini di wilayah Mandar antara lain Majene, Mapilli (Polewali), Mamasa Tapalang dan Mamuju pernah mengalami bencana banjir bandang terdahsyat pada masa lampau. Bencana tersebut ada dalam laporan pemberitaan media Hindia Belanda mengingat bencana tersebut terjadi pada masa Hindia Belanda masih menjajah di Indonesia, kejadian ini tercatat pada tanggal mulai 26 - 28 November 1938. Begitu dahsyatnya bencana ini sampai sampai menjadi topik utama disetiap koran koran Hindia Belanda bahkan di Eropa kala itu. Dalam salah satu artikel berita Leids Courant (Koran Leiden) mencatat hampir semua infrastruktur, rumah penduduk, pasar, pesanggrahan, kantor pejabat pemerintah, jembatan besar maupun yang kecil ambruk dan hanyut terbawa banjir, korban meninggal diperkirakan ± 65 orang dan 14 orang dinyatakan hilang tidak diketahui berapa korban sebenarnya dari kejadian tersebut secara keseluruhan. Di Kampung Malunda di sebutkan sekitar 400 rumah penduduk dan 126 rumah penduduk di Mamuju rusak dan ada 28 orang korban yang meninggal dunia. Belum ada kepastian berapa kerugian dan korban meninggal yang pasti, data data tersebut belum mencakup wilayah di Mandar lainnya seperti Majene, Mapilli, Mamasa dan lainnya.

Mobil pejabat pemerintah harus ditarik dari sungai ke tempat dangkal dan tidak terlalu berbatu di pantai. dikarenakan jembatan kayu hanyut oleh banjir , Mamudju, Mandar.
Rumah Penduduk Mamuju Rusak Setelah di terjang banjir bandang.
Jembatan kayu di Mamudju di tempat Kasiwah utama terpotong akibat dihantam banjir di Mandar , Sulawesi.
Dari data yang diperoleh baik berupa data laporan artikel koran maupun foto foto kejadian tidak menyebutkan secara pasti kerugian dan berapa jumlah korban dari dahsyatnya bencana banjir bandang tersebut. (sumber ; Leyds Courant, foto ; KITVL Troopen Museum).  Red- Arman Husain. 

Jembatan Sungai Mamuju Dan Banjir Bandang Tahun 1938 Di Mandar

Jembatan sungai Mamuju yang ada sekarang berlokasi di simpang lima jalur jalan poros Mamuju ke utara dibangun dimasa ini karena mengalami kerusakan akibat gempa bumi 6.2 M yang mengguncang Mamuju di awal tahun ini tepatnya 15 Januari lalu, mengingat usia jembatan sungai Mamuju ini sudah cukup tua sehingga pemerintah Kabupaten Mamuju berencana membangun jembatan pengganti yang lebih lebar dan kokoh dan saat ini sudah dibangun jembatan alternatif untuk dilalui sementara dalam proses pembangunan.

Fakta menarik dari jembatan di sungai Mamuju yang banyak masyarakat Mamuju tidak ketahui adalah jauh sebelumnya sudah ada jembatan Sungai Mamuju yang jadi jembatan penghubung antara kampung kasiwa (lingkungan kasiwa) dengan bagian utara yaitu kelurahan Mamunyu, kampung Tambi (kampung baru) jembatan ini dulunya berlokasi di kasiwa yang merupakan muara sungai ini, tepatnya disisi kanan pelabuhan kapal nelayan dan kapal dari pulau Karampuang. Disinilah letak jembatan sungai Mamuju pertama kali dibangun oleh masyarakat Mamuju. 

Diperkirakan jembatan ini dibangun pada masa periode kolonialisme di Mamuju atau bahkan sebelum penjajah Belanda menginjakkan kakinya di Mamuju dan ada kemungkinan jembatan tersebut dibangun pada masa Mamuju masih berbentuk kerajaan, namun sumber keterangan pastinya kapan jembatan ini mulai dibangun ini  belum bisa dipastikan. Sungai Mamuju pada mulanya bercabang dua pada sisi sungai yang sekarang adalah pelabuhan bongkar muat perahu kecil ini lebih lebar dari sisi yang satunya karena dimulut muara sungai ini terbentuk pulau kecil yang sekarang disebut (Tambongkeng) perlahan-lahan mendangkal karena endapan yang terbawa arus sungai yang pada akhirnya menutup aliran sungai disisi ini dan cenderung mengalir pada sisi yang lain.

Beberapa fakta yang menjadi sumber rujukan akan hal ini terdapat dalam beberapa dokumentasi foto foto dan arsip pemerintah Belanda bahwa disebutkan sebagai berikut; Na Mamoedjoe wordt de rivier van dien naam gepasseerd over een 4 M. breede, 57 M. lange, overdekte stevige brug en over Tambi langs aan 300 M. langen, stevigen karang dan Timboe bereikt vanwaar de weg zich voortzet afwisselend door heuvelterrein en vlakte naar het Noorden. (Nota Bevretende Het Landschaap Mamoedjoe - Indische Taal Land en Volkenkunde, hal. 46.) 

Dijelaskan bahwa; Sungai Mamoedjoe itu dilewati atau dilalui dengan jembatan yang kokoh dibuat dari batang pohon kelapa dan batang kayu dengan lebar 4 Meter, panjang jembatan 57 Meter, pada bagian atasnya tertutup oleh atap daun rumbia dan pada bahagian pondasi dari batu batu karang yang koko sebagai pondasi dan juga dasar jalanan batu dari Tambi kemudian mencapai Timboe sepanjang 300 Meter, jalanan ini terus menuju ke utara melalui medan berbukit. Data ini termuat dalam sebuah jurnal yang diterbitkan dalam dokumen berbentuk buku yang dicatat pada sekitar tahun 1910 dan terbit setahun setelahnya oleh kementrian daerah jajahan/koloni Hindia Belanda.

Keterangan ini diperkuat oleh beberapa dokumentasi foto foto yang dimuat oleh lembaga Museum Nasional Belanda dalam bentuk museum digital Tropenmuseum Nederland. Dalam keterangan salah satu foto itu menjelaskan; De houten Kasiwah-brug bij de hoofdplaats Mamudju in Mandar is door een overstroming (banjir) stuk geslagen Celebes. 
Jembatan Sungai Mamuju 1912 -1924

Dari keterangan foto tersebut kita bisa mengetahui bahwa dahulunya memang dimuara sungai Mamuju tepatnya di kampung Kasiwa yang sekarang lokasi jembatan ini berada (lihat peta dibawah) sekarang jembatan ini sudah tidak ada sejak hancur terkena dampak banjir bandang yang melanda Mamuju pada November 1938 yang juga sebagian besar melanda wilayah Mandar seperti Balanipa, Majene, Polewali, Mapilli dan Mamasa. 

Banjir yang terjadi ini karena curah hujan yang cukup tinggi dibeberapa minggu sebelumnya, Disebutkan bahwa dari informasi kantor pemberitaan Hindia Belanda di Makassar bahwa akibat dari bencana banjir ini menewaskan sekitar 65 orang dan 14 orang dinyatakan hilang dan kerusakan secara material tak terhitung diperkirakan 400 rumah penduduk secara keseluruhan di wilayah Mandar ini mengalami kerusakan yang cukup parah, termasuk fasilitas umum seperti pasar dan kantor pemerintah Hindia Belanda banyak yang rusak berat termasuk jembatan sungai Mamuju yang pertama ini.

Peta Muara Sungai Mamuju 
Lokasi Jembatan Kayu Kasiwa Pada Peta (Google Map) Dan Garis Pantai (Merah) Pada Tahun 1938

Peta Muara Sungai Mamuju




Kamis, 06 September 2018

Hapati Hasan Sang Pelopor Pembangunan Di Mamuju

H. Hapati Hasan, BA adalah merupakan sosok peletak dasar pembangunan di Kabupaten Mamuju. Ayahnya berasal dari Tapangkang (Tapalang Barat). Hapati sebenarnya adalah nama ibunya yang dilekatkan pada namanya. Ibunya adalah warga Baturoro Desa Tubo. Sejak kecil hingga dewasa Hapati Hasan menetap di Baturoro. Pada saat umurnya beranjak remaja, Ia sangat piawai memainkan kecapi (kacaping).

Dalam beberapa hasil penelusuran dan keterangan didapatkan bahwa sosok Hapati Hasan muda adalah seorang remaja yang nakal dan pemberani. Ia kerap mengencingi teman-temannya yang lagi asik kumpul-kumpul disebuah tempat. Biasanya ia mengambil tempat yang agak diatas dan kencing kebawah, sehingga teman-temannya tersiram air kencingnya.

Dimasa mudanya, ia mulai berpetualang ke daerah Kalimantan dengan mengendarai perahu layar. Dalam pelayarannya itu ia bertindak sebagai juru batu perahu yang berdiri didepan perahu untuk meneropong kedepan dan mengarahkan perahu kemana akan diarahkan. Sejak muda, ia sudah berpengalaman mengarungi lautan Majene, Mamuju, Kalimantan bahkan sebagian pulau Jawa sudah ia jelajahi. Hal tersebut juga ditunjang oleh ayahnya yang terkkenal memiliki banyak pohon kelapa. Inilah yang mendorongnya untuk kemudian menjadi pelaut dan pedagang kopra. Dalam berdagang pun ia sangat cermat soal hitung-menghitung sehingga ia dijadikan juru tulis.

Hapati Hasan muda juga salah satu yang menjadi anggita kelasykaran atau Kris Muda, wadah pejuang Mandar yang dipimpin oleh Andi Depu. Selain itu, ia jjuga aktif di perkumpulan Nahdhatul Ulama (NU), terlebih ibunya juga tercatat sebagai salah satu pengurus fatayat NU. Hapati Hasan juga aktif dikegiatan olahraga, ia jago main takrow dan berkuda. Jarak antara Tubo dan Tapalang baginya sangat dekat sebab ia bisa memacu kudanya dengan kencang tanpa pernah istirahat.

Pengembaraan Hapati Hasan sebagai pemuda berandal di Mandar ternyata bisa juga mengecap pendidikan. Setamat SR, ia melanjutkan SMP di Majene. Ia merantau ke sebuah daerah yang tak jauh. Tahun 1950 di Makassar ia mendaftar jadi tentara dan lulus. Setelah itu ia ikut pendidikan kemiliteran di Pakkatto’. Usai pendidikan, ia ditempatkan sebagai anggota batalion.
Pada saat bertugas di Batalion itulah ia ketemu dengan seorang dara pendamping hidupnya: seorang dara Jeneponto yang juga sedang menunaikan tugas sebagai guru SD Negeri di Bantaeng. Mereka akhirnya sepakat untuk menikah.


Dari Bantaeng ia dipindahkan ke Bone dengan pangkat Kapten. Ia dipercaya sebagai Pemegang Kas Militer (PKM). Usai tugas di Bone ia dipindahkan ke Makassar, ditarik ke Kodam 14 Makassar. Saat itu, situasi dan kondisi Makassar sedang genting, bukan hanya Makassar tapi Negara pun dalam keadaan genting sebab PKI akan melancarkan kudeta terhadap pemerintahan yang sah.  Kondisi tersebut membuat Hapati Hasan bekerja keras dan mulai membina pemuda di Makassar, termasuk di Bontorannu Kec. Mariso tempat ia tinggal dibentuk semacam pamswakarsa yang dijadikan kekuatan untuk melawan PKI di Makassar.

Rakyat dan tentara menyatu melawan PKI dan Hapati Hasan dipercaya membinan teriotorial yang ada di Mariso. Hal ini sejalan dg tugasnya membina pemuda bersama dengan tokoh agama yang bernama Musri Hamdan. Jika kudeta PKI berhasil maka yang pertama akan dibunuh adalah Musri Hamdan dan kedua adalah Hapati Hasan.

Pada penghujung tahun 1960-an, Mamuju masih sangat rawan. Ketika itu, baru saja usai pertikaian. Bupati Mamuju yang barus saja ditetapkan melalui SK Mendagri, Wahab Azasi dibunuh di daerah pergolakan. Untuk mengisi kekosongan pemerintahan haruslah menunjuk orang yang lebih tepat. Saat itu, masyarakat dan pemuda menginginkan Hapati Hasan untuk menduduki jabatan bupati. Hipermaju, adalah wadah berhimpunnya mahsiswa Mamuju di Makassar dipimpin oleh Gaus Bastari. Gaus Bastari memimpin sebuah delegasi untuk menghadap Gubernur Sulsel untuk menyampaikan pernyataan sikap mendukung Hapati Hasan sebagai Buapti Mamuju.
Bupati Mamuju H. Hapati Hasan.

Tahun 1969 H. Hapati Hasan BA resmi dilantik sebagai Bupati Mamuju. Hapati Hasan memerintah dengan kondisi Mamuju yang masih sangat tertinggal, penduduknya masih bisa dihitung jari termasuk rumah-rumah belum seberapa. Mamuju sebagi ibukota belumlah layak disebut kota, ia tampak sebagai gugusan perkampungan kumuh. Sarana transportasi lebih-lebih. Bahkan ketika Hapati Hasan dilantik saat itu, rombongan hanya bisa sampai di Majene, sebab kendaraan tak bisa tembus ke Mamuju. Rombongan kemudian mengalihkan perjalanan melalui laut.

Program pertama Hapati Hasan sebagai bupati adalah mengajak warga yang tinggal dipegunungan untuk mengungsi ke daerah pegunungan yang lebih aman. Namun warga Mamuju salah paham, mereka masih trauma dengan pergolakan-pergolakan yang terjadi sebelumnya. Mereka juga khawatir kedatangan tentara tujuh sepuluh di Mamuju. Dan kedatangan Hapati Hasan di  anggap bukan sebagai sosok yang diinginkan sebab mereka masih trauma dengan tentara, apalagi Hapati Hasan juga datang dengan latar belakang sebagai tentara.

Kondisi itu tidak membuat Hapati Hasan berkecil hati. Ia terus berupaya untuk menciptakan suasana yang kondusif sehingga membuat warga menjadi tertarik untuk kembali ke komunitas mereka yang tersebar di Mamuju. Inilah keberhasilan Hapati Hasan yang pertama setelah menjadi Bupati Mamuju.

Program kedua yang dilakukan oleh Hapati Hasan adalah pengembangan fisik bersinergi dengan pembangunan sumberdaya. Awal 1970-an, pembangunan sudah mulai Nampak. Kantor DPRD Mamuju mulai terbangun, bangunan tanggul yang ada di kota Mamuju, bahkan perintisan Bandara Tampa Padang sebagai tempat berpacunya pesawat terbang merupakan bangunan yang dirintis oleh Hapati Hasan pada tahun 1970-an.

Model kepemimpinan Hapati Hasan juga menggunakan sistim kekeluargaan, sehingga rumah jabatan bupati dijadikan sebagai rumah rakyat. Tak ada jarak antara bupati dengan warganya. Pemandangan di rujab ini membuat orang yang datang tak bisa membedakan mana anak bupati dan anak kebanyakan. Mereka kadang makan bersama dalam jumlah yang banyak. Bahkan tak jarang masyarakat yang kebetulan lewat diajak untuk singgah dan makan bersama. Kadang rumah jabatan bak dapur umum. Itulah yang dilakukan oleh Hapati Hasan dengan warga yang dipimpinnya. Ia berbaur begitu rupa, tak ada jarak, tak ada sekat yang membatasi.

Hamzah Hapati Hasan yang saat ini menjadi unsur pimpinan di DPRD Sulawesi Barat adalah anak ketujuh yang ikut berbaur dengan anak kebanyakan. Ia sangat dekat dengan ayahnya dan termasuk paling banyak menemani ayahnya tidur. Hamzah adalah sosok yang paling banyak merekam jejak ayahnya semasa memerintah sebagai bupati. Bisa dibayangkan ketika harus mengunjungi wilayah Pasangkayu dan Kalumpang saat itu. Tentu hal itu adalah salah satu kunjungan kerja yang paling mengerikan sebab wilayah tersebut adalah wilayah baru terbuka dan sangat kental dengan kejadian misterius yang kerap ia temukan dijalan.

Pada tahun 1976, Hapati Hasan bersama Hamzah ke Jakarta mengurus dana proyek untuk infrastruktur pembangunan Kabupaten Mamuju. Di Jakarta ia menginap di Hotel Indonesia, hotel paling mewah dan ternama di Jakarta saat itu. Urusan tersebut berjalan mulus dan sukses mengantongi anggaran sebesar 600 juta diantar langsung ke Mamuju. Dan infrastruktur yang dibangun dari anggaran tersebut adalah kota Mamuju yang ada sekarang (2006-ed.).
Hapati Hasan tidak saja mendorong pembangunan fisik. Pengembangan SDM juga ia benahi dengan mencetak kader pemuda potensial. Salah satu kadernya adalah Almalik Pababari yang waktu itu tengah bersekolah di APDN. Gaus Bastari juga merupakan kader muda yang ia persiapkan dan termasuk sangat dekat dengan Hapati Hasan. Atas ajakan Hapati Hasanlah, Gaus Bastari memilih Golkar sebagai kendaraan politiknya. Tentu saja masih banyak kader terbaiknya yang kini memegang jabatan penting di pemerintahan.

Ada hal yang paling berkesan dalam jejak kehidupan seorang Hapati Hasan. Pada Pemilu tahun 1971 (Pemilu pertama Orde Baru), GOLKAR memperoleh suara 99,9 persen dari jumlah pemilih yang ada. Ini menjadikan Hapati Hasan menjadi kader terbaik yang menjadikan Kabupaten Mamuju sebagai peraih suara terbanyak bersama Kabupaten Wajo. Hasil tersebut melahirkan sejumlah protes salah satu partai yang menganggap Hapati Hasan tak membuka ruang gerak kepada partai-partai selain Golkar untuk berkembang di Mamuju.

Protes tersebut menjadi laporan yang sampai ke Makassar, di meja petinggi militer di Sulawesi Selatan. Hapati Hasan pun dipanggil oleh Litsus Kodam untuk klarifikasi. Dihadapan Litsus, Hapati Hasan menjelaskan bahwa ia tak pernah memasung demokrasi di Mamuju. Perolehan Golkar di Mamuju adalah murni hasil kerja nyata dari partai Golkar, sebab partai lain, jangankan aktifitasnya kantor sekretariatnya saja tak ada. Litsus Kodam pun mafhum dan menganggap bahwa perolehan suara Golkar di Mamuju adalah murni, bukan rekayasa. 
    
Komitmen Hapati Hasan datang ke mamuju adalah untuk membangun. Itu terbukti dengan pembangunan pasar sentral pertama di Mamuju. Kolaborasi antara rakyat pemerintah terjadi. Rakyat yang mengangkut pasir dan batu, sementara pemerintah yang menyiapkan bahan-bahan bangunan lainnya termasuk pembiayaan pasar tersebut. Hapati Hasan tampil sebagai pendorong gerak maju pembangunan di tengah-tengah warganya. Pengabdiannya adalah membangun. Saat pertama dilantik, ia membawa satu tim inti dari Makassar yang disebutnya sebagai gerbong pembangunan, menemaninya merancang konsep-konsep pembangunan Kabupaten Mamuju.

Ayah Wilianto (pengusaha sukses yang saat ini menjadi pemilik PT. Passokkorang dan d’Maleo Hotel), juga seorang penguasaha sukses di Mamuju, ia seorang keturunan China adalah sosok yang kerap membantu Hapati Hasan saat menemui kendala keuangan dalam pemerintahannya. Ia kerap membantu bupati dalam membayarkan gaji guru-guru dan staf di kantor kabupaten. Dialah partner bupati dalam membangun.  
     
Akses perdagangan untuk meningkatkan laju perekonomian ia buka ke Kalimantan dan Makassar, bahkan ke pulau Jawa. Mamuju adalah daerah penghasil kelapa (kopra) yang menjadi andalan perdagangan regional, meski sesungguhnya Mamuju memiliki banyak sumber daya alam, tapi belum terkelola dengan baik. Hasil hutan berupa rotan dan kayu hutan mulai dibukakan akses dan ini sangat diminati oleh pengusaha-pengusaha dari tanah Jawa.

Hubungan dengan petinggi-petinggi di daerah sekitar wilayah Mandar juga sangat dekat. Jika dalam perjalanan dari Mamuju ke Makassar, maka ia akan singgah dan bermalam di Majene sehingga dikenal dengan sebuatan daerah transit.

Perkembangan Kota Mamuju pada periode pertamanya memang belum terlalu signifikan peningkatannya, tapi tata kota sudah mulai terlihat. Pada periode keduanya, Mamuju sudah mulai berubah. Kantor Buapti yang dahulu berdinding papan diganti menjadi lebih permanen (sekarang jadi kantor Panwaslu Kabupaten Mamuju). Jalan Mamuju-Majene sudah terbuka. Rumah makan yang tadinya sangat susah ditemukan sudah mulai menjamur. Tak hanya kota yang dibangun, Tarailu yang jaraknya ratusan kilo bahkan jadi prioritas pembangunan. Ia memperkenalkan transmigrasi lokal (translokal). Warga Bugis pun berbondong-bondong datang ke Tarailu dan menjadi komunitas yang padat.

Adat dan kearifan-kearifan lokal juga dibangkitkan lewat cara memposisikan Andi Maksum DAI, salah seorang pemangku adat Mamuju menjadi Ketua DPRD Mamuju. Begitupun Gaus Bastari juga pernah jadi Ketua DPRD Mamuju ketika ia menjadi Bupati. Gaus Bastari bahkan dinobatkan sebagai Ketua DPRD kabupaten termuda di Indonesia. Itu artinya bahwa Hapati Hasan member ruang gerak kepada pemuda-pemuda potensi berkembang, bersama-sama membangun kabupaten Mamuju.      

Periode kedua sebagai Bupati Mamuju hanya ia jalani selama 3 tahun sebab di tahun keempat (1978) ia mengalami sakit serius. Kondisi fisiknya menurun.Ia lalu berkesimpulan untuk mengundurkan diri menjadi bupati sebab membangun sebuah daerah tak hanya butuh semangat, tapi juga dibutuhkan fisik yang prima. Lagi-lagi Hapati Hasan membuat sebuah keputusan bijak yang mungkin hanyan segelintir orang yang mampu untuk melakukannya. 
  
Hapati Hasan betul-betul menjadi bupati yang tak kenal lelah, ia terus berjuang untuk mengubah Mamuju menjadi sebuah daerah yang maju. Kondisi fisiknya sesungguhnya sudah mulai pulih pada tahun 1982, sehingga terdengar rumor bahwa ia digadang-gadang akan di angkat menjadi Bupati Majene, tapi kemudian ia tolak dan memilih untuk istirahat saja. Ketika suatu saat penyakitnya kambuh kembali, rupanya maut sudah menjemput dan membawanya menghadap Tuhan-Nya untuk selama-lamanya.
    

________________

  sumber: Bupati ke-4 Kabupaten Mamuju, Sarman Sahuding, 2006

Minggu, 02 September 2018

Menelusuri Jejak Kerajaan Mandar Dari Kaili Sampai Tomini

Suatu perkembangan baru pada abad ke 15, yaitu tampilnya beberapa kerajaan kecil di pesisir barat jazirah selatan dalam hal kekuatan maritim, tampilnya kerajaan Mandar dalam pengawasan jalur pelayaran perdagangan ke utara Sulawesi, semakin ramainya pelayaran niaga dikawasan itu telah mendorong kerajaan Gowa yang berada dibawah pemerintahan raja Tumapparissi Kollonna (1510-1546) bergiat untuk mengembangkan bandar niaganya. kerajaan Kaili dan Gorontalo berada dibawah kekuasaannya Pada tahun 1638 Kerajaan Mamuju menyerahkan pengawasan Gorontalo kepada Kerajaan Gowa Makassar secara damai. [1]

Pada tanggal 2 Mei 1888, Gubernur Belanda di Makassar datang ke Sulawesi Tengah untuk melantik raja Benawa ke-8, La Makagili Tomaidoda Pue Nggue (1888-1902), sekaligus menyelesaikan sengketa perbatasan wilayah kerajaan antara kerajaan Toli-toli, kerajaan Mamuju dan Benawa. Dari konflik tersebut akhirnya VOC membuat Lange Contract pada April 1888 untuk ditandatangani oleh raja La Makagili Tomaidoda dan tentang pembukaan jalur laut 14 Koningklij Paketvaart Maastchappij  (KPM), Singgah sekali dalam dua minggu adalah jalur pelayaran kapal uap perusahaan Belanda yang sahamnya dikuasai swasta, Koninklijk Paketvaart Maatschappij (KPM) itu untuk menghubungkan lalu-lintas perdagangan antara dua pusat perdagangan, Makassar di selatan dan Manado di utara, selain melegitimasi kekuasaan Belanda di masa itu bagi tata niaga perdagangan (kopra) dan juga atas Selat Makassar,[1] Yang jauh hari telah mengikat Benawa melalui Traktat Benawa tahun 1667 yang selanjutnya mengikat Donggala (Kaili) melalui perjanjian penyerahan emas kepada VOC pasca ditandatanganinya Perjanjian Bongaya oleh kerajaan Gowa pada 18 November 1667 di Makassar.

Kontrak penjualan emas kerajaan Benawa dengan VOC, mengakibatkan Belanda campur tangan mengamankan kapal dagangnya dari gangguan perompak laut terutama bajak laut dari Mindanao (Filiphina) yang sering menganggu jalur dagang diselat Makassar. Sehingga pada tahun 1862 di Kerajaan Mamuju pihak Belanda menyerahkan Akta Panjang yang ditandatangani oleh Maradika NaE Sukur, yang isi pernyataan tersebut adalah menyerahkan kekuasaan monopoli perdagangan jalur laut Mamuju kepada VOC. Serta penangkapan bajak laut yang harus diadili oleh militer VOC. 

Adanya pengaruh kekuasaan kerajaan Mandar di kawasan ini telah diketahui sejak kedatangan armada kapal yang diawaki oleh tiga orang Punggawa kerajaan Mandar dan salah satunya menjadi pendiri kerajaan Moutong di Tomini. Begitupun dengan kerajaan-kerajaan ditanah Kaili diketahui dengan adanya kesamaan budaya dan adat dengan kerajaan dari Mamuju (Mandar) dapat diketahui dari istilah-istilah yang dipakai untuk perangkat kerajaan, ada kesamaan dengan penyebutan gelar yang ada di kerajaan Mamuju seperti ; Baligau, Ponggawa, Pabicara, Madika/ Maradika dan istilah untuk Pue dan Puang yang juga dipakai oleh kerajaan kerajaan ditanah Kaili.

Dalam sumber sejarah yang lain adalah disebutkan bahwa cikal bakal keturunan raja-raja di Teluk Tomini adalah berasal dari Mandar, Tomini berasal dari kata Tomene, yang berarti To= Orang, Mene = Mandar untuk penyebutan bagi meraka kepada orang Mandar. Silsilah kerajaan Kasimbar terdapat tokoh yang dikenal dengan Arajang Patae Kaci yang kawin dengan Putri Olongian setempat. Yang berhubungan dengan sejarah kuno tentang kedatangan ekspedisi dari Mandar dibawah komando tiga orang ; Toriwoseang, Magau Dianggu dan Pueta Karikaca dan Pueta Karikaca inilah yang meneruskan perjalanan ke Teluk Tomini dan kawin di Kasimbar dan menjadi raja ditempat ini. Di Teluk Tomini, dinasti istana Tojo dan Moutong didirikan masing-masing oleh para pendatang Bugis dan Mandar di paruh ke dua abad 18 (Adriani and A.C Kruyt, 1912–14, I: 76; Riedel 1870b: 561)



Menurut tradisi lisan bahwa tokoh inilah yang mengadakan penaklukkan dari Tolole sampai ke Molosipat. Berkuasanya Sigi ke Molosipat di utara mungkin terjadi sebelum datangnya penguasa Mandar mendirikan Moutong. Karena seorang Putri Sigi bernama Pue Kurukere (dae Sarame) menjadi Madika di Tawaeli maka wilayah Sigi dari Tawaeli sampai Molosipat diberikan kepada Tawaeli. Kemudia cucu dari Kurukere ini bernama Yonggebodo (Magau ke II dari Tawaeli kawin dengan seorang Putri bangsawan Mandar yang bernam Irawe Mas. Selanjutnya sementara anak Olongian setempat (cucu dari Pueta Karikaca), yang bernama Pua Woli menikah dengan Sappewali yang juga keturunan bangsawan Mandar. Kemudian Sappewali ini menjadi raja Toribulu, dari perkawinan inilah lahirlah anak bernama Pika (Wanita) yang kawin dengan Tombolotutu raja Moutong.

Kerajaan Moutong adalah merupakan suatu kerajaan yang cikal bakal rajanya adalah  keturunan Mandar, dalam tradisi lisan diketahui bahwa ada kerajaan kuno bernama Kerajaan Lambunu yang rajanya berasal dari Lampasio yang merupakan kerajaan bersaudara dengan kerajaan Toli-toli, sebelum berdirinya kerajaan Moutong oleh Manggalatung yang merupakan anak keturunan raja di Mandar, wilayah Lambunu ini meliputi Moutong sampai Tomini dari kerajaan Lambunu inilah didapatkan informasi bahwa ada seorang raja dari Mamuju (Mandar) yang bernama Nae,[2] setelah kematian istrinya lalu menitipkan putranya yang bernama Manggalatung untuk dipelihara oleh raja Lambunu sampai dewasa. Setelah anak ini dewasa ayahnya datang menjemputnya tapi kemudian ayahnya (NaE) mendudukkannya sebagai raja di Moutong (yang dalam bahasa Mandar berarti mottong atau tinggal) pada tahun 1771.[3] 

Sebelum Manggalatung dilantik jadi raja Moutong tahun 1778 dan telah ada perjanjian antara raja Mamuju (Nae) dan raja Lambunu, bahwa hak raja Lambunu haruslah dihormati oleh raja Moutong dan dibuatlah suatu ikrar “kalau raja Moutong dalam kesusahan maka kerajaan Lambunu membantunya begitupun sebaliknya“.[4]


Bersambung...



[1] Leonard Y, Andaya. The Herritage of Arung Palakka. 1981, Hal. 19.
[2] NaE adalah nama gelar bangsawan Mamuju yang juga adalah marga untuk menunjukkan masih keturunan bangsawan murni, tapi dari sumber ini tidak disebutkan nama lengkapnya.
[3] Sejarah Daerah Sulawesi Tengah, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. , Anhar Gonggong dkk. 1984. Hal. 43/44.
[4] ibid_ 




Apa Motif Orang Mandar Ke Pesisir Teluk Tomini?


Kajian tentang migrasi orang Mandar ke bagian barat dan selatan Nusantara relatif memadai dibandingkan penyebaran orang Mandar ke kawasan utara dan timur.

Kampung-kampung Mandar ada puluhan di sekian ratus pulau di Selat Makassar, Laut Jawa dan bagian barat Laut Flores atau utara Bali dan Jawa Timur. Beberapa kampung Mandar yang pernah saya datangi langsung yang mana di situ masih kental praktek budaya-budaya Mandar (bahasa, ritual, teknologi, dll) bisa dilihat di Pulau Masalembu, Kepulauan Pagarungan, utara Pulau Bali dan beberapa pulau di Kepulauan Spermonde. Kampung Mandar juga melimpah di pulau kecil di timur Kalimantan Selatan, termasuk Pulau Laut beribukota Kotabaru.

Tidak hanya hanya itu, kajian tentang penyebaran orang Mandar tersebut sudah banyak dilakukan. Atau setidaknya menjadi bagian ketika para peneliti mengkaji penyebaran orang Bugis. Tapi bagaimana dengan penyebaran orang Mandar ke bagian utara dan timur Nusantara? Secara pribadi saya belum pernah menemukan (itu tidak berarti bahwa kajiannya tidak ada). Padahal bila ditelisik lebih jauh dan mendalam, penyebaran orang-orang yang tinggal di pesisir Teluk Mandar juga terjadi masif dan merentang ke ratusan tahun lampau.

Salah satu faktanya adalah penamaan Teluk Tomini itu sendiri yang berarti Teluk Orang Mandar. Dipikir-pikir, sepertinya itu adalah jejak orang Mandar yang paling “Wah”, yang tercatat di peta dunia. Apalagi status Teluk Tomini yang merupakan salah satu teluk terbesar di dunia. Memang sih ada juga Teluk Mandar, tapi luasnya ga seberapa dan itu wajar, kan lokasinya memang dekat.

Bukan hanya itu, daerah Gorontalo pun pernah di bawah kekuasaan orang-orang Mandar ketika bersekutu dengan Kerajaan Gowa Tallo. Hanya saja, belum ada ditemukan kajian ilmiah komprehensif yang membahas kenapa orang Mandar jauh-jauh ke Gorontalo dan pesisir timur Pulau Sulawesi ‘berkuasa’.

Menarik untuk dikaji tentang migrasi orang Mandar ke pesisir timur Sulawesi Tengah. Bukan apa, kalau kesananya menggunakan perahu atau lewat laut, itu jaraknya bisa sampai 2.000 km (hampir sama jaraknya ke utara Filipina). Meski itu bukan hal mustahil, tapi jika menggunakan jalur laut melewati utara Pulau Sulawesi, itu sulit dilakukan di masa lampau yang alasannya hanya untuk ekspansi politik. Yang paling masuk akal adalah jalur darat.

“Ya, di Sulawesi Tengah itu ada jalur di leher Sulawesi yang dulu digunakan sebagai jalur darat orang Mandar menyeberang dari Selat Makassar ke Teluk Tomini. Oleh orang penduduk asli di sana dikiranya orang Mandar orang dari gunung, padahal mereka datang dari sisi barat Pulau Sulawesi,” kata Zulkifly Pagessa yang akrab disapa Uun, pekerja seni Sulawesi Tengah kepada saya beberapa waktu lalu saat membicarakan fenomena penyebaran orang Mandar di Sulawesi Tengah.

Jika betul jalur itu yang digunakan, maka orang Mandar hanya berlayar sekira 500 km untuk kemudian jalan kaki atau menggunakan kuda melewati bagian “leher” Pulau Sulawesi yang paling ‘sempit’ menuju pantai timur. Jika ditarik garis lurus jaraknya tak seberapa, berkisar 20  - 30 km. Amat ringkas bila dibandingkan jauh-jauh berputar ke utara lalu ke ti mur (Menado) lalu turun ke selatan terus belok lagi ke barat.

Persebaran orang Mandar waktu lampau setidaknya alasannya adalah motif politik dan ekonomi. Yang paling berpengaruh menurut saya adalah yang kedua, ekonomi. Besar kemungkinan orang Mandar mencari sumberdaya alam yang banyak di Sulawesi Tengah. Seperti damar, rotan, kayu dan rempah-rempah. Di masa lampau, rempah-rempah seperti cengkeh dan lada nilainya seperti emas. Nah di kawasan Parigi (dulu) juga datang orang-orang dari Ternate – Tidore, asal rempah-rempah dunia. Dengan kata lain, orang Mandar membeli atau membarter rempah-rempah dari timur dengan produksi dari Mandar (misalnya tenun sutera) untuk kemudian rempah-rempah tersebut mereka bawa ke Makassar atau Selat Malaka.

Hal di atas masih sebatas tesis, tapi kemungkinan itu ada. Sebagaimana yang dikemukakan Andi Pertiwi Damayanti dalam “Sebuah Catatan dari Lintasan Sejarah Sulteng” bahwa “… Walaupun kerajaan di Teluk Tomini ini berasal dari Mandar, agaknya pengaruh Gorontalo/Ternate yang datang lebih dahulu lebih dominan dalam struktur pemerintahannya. Maka susunan pemerintahannya sebagai berikut: Olongian (kepala negara), jogugu (perdana menteri), Kapitan Laut (menteri pertahanan), Walaapulu (menteri keuangan), Ukum (menteri perhubungan), dan Madinu (menteri penerangan).” Artinya, memang di kawasan Parigi Moutong terjadi persilangan budaya Mandar dengan Ternate. Ada hubungan bermotif ekonomi bukan hal mustahil.

Tidak sebatas ke pantai timur Sulawesi Tengah, tapi juga sampai ke Kerajaan Banggai, terus ke Kepulauan Sula hingga gugusan pulau penghasil rempah, yaitu Ternater, Tidore, Bacan dan lain-lain. Perjalanan orang Mandar ke kawasan tersebut diperkirakan terjadi pada abad ke-16. Di masa itu, di Sulawesi Tengah terdapat sejumlah kerajaan yang cukup penting, antara lain: Banawa, Sigi, Biromaru, Tawaeli, Pontolan, Sindue, Dolo, Bangga, Tatanga, Palu, Sibalaya, Kulawi, Parigi, Kasimbar, Muotong, Lambunu, Pamona, Pekurehua, Ondae, Mori, dan Buol. Di Teluk Tomini juga terdapat kerajaan-kerajaan tua seperti Sipayo dan Bondoyo, namun sumber-sumber sejarah tentang kerajaan-kerajaan tersebut kini tidak ada lagi.

Pada abad tersebut kerajaan-kerajaan dari Sulawesi Selatan semakin memperbesar pengaruhnya di Sulawesi Tengah. Perluasan pengaruh kekuasaan ini diiringi dengan adanya hubungan perkawinan di antara para penguasanya. Kemudian datang pula pengaruh dari Mandar, terutama di kawasan pantai barat dan pantai timur Teluk Tomoni. Raja-raja Tawaeli, Kasimbar, Toribulu, dan Muotong mengaku berasal dari keturunan raja-raja Mandar.

Berdasar hal di atas, perjalanan ke pesisir timur Sulawesi Tengah perlu dan penting untuk dilakukan. Pada saat yang sama perjalanan 25 sandeq dan ratusan passandeq ke Parigi Moutung wajib untuk dicatat dalam sejarah Mandar.(Muh. Ridwan Alimuddin)

Dikutip dari :
https://ridwanmandar.blogspot.com/2015/09/apa-motif-orang-mandar-ke-pesisir-teluk.html?view=snapshot&m=1